Akademisi AS Sebut Muslim Turki Adalah Musuh Historis Barat

  • Bagikan
Michael Gunter, profesor sosiologi dan ilmu politik AS
Michael Gunter, profesor sosiologi dan ilmu politik AS/RMOL

IDTODAY NEWS – Sebuah fakta baru diungkap oleh seorang akademisi AS mengenai tragedi pembunuhan orang-orang Armenia di zaman Kekaisaran Ottoman Turki.

Michael Gunter, profesor sosiologi dan ilmu politik AS, berargumen bahwa tidak ada dokumen yang membuktikan bahwa pembunuhan orang-orang Armenia adalah kebijakan resmi Kekaisaran Ottoman pada 1915.

Berbicara di Yayasan Keamanan Turki-Amerika (TASFO), Gunter yang berasal dari Universitas Teknologi Tennessee menjelaskan bahwa dokumen terkenal yang diterbitkan oleh penulis Armenia Aram Andonian pada tahun 1919 untuk membuktikan pembantaian yang disengaja, adalah palsu.

Baca Juga  Berjarak Kurang dari 700 KM, Markas Pesawat Pembom Nuklir Milik China Berada Tak Jauh dari Natuna

Setelah melakukan penelitian tentang peristiwa 1915, Gunter mengatakan klaim Armenia memiliki audiens yang lebih besar karena orang-orang Armenia Kristen mendapatkan lebih banyak simpati di Barat Kristen.

“Juga, Muslim Turki adalah musuh historis Barat. Karena orang Armenia juga berbicara bahasa Barat lebih baik daripada bahasa Turki, mereka dapat menyampaikan pesan mereka kepada Barat dengan lebih baik,” jelas Gunter, seperti dikutip dari AA, Kamis (19/8).

Baca Juga  Erdogan: Turki Mau Jalin Hubungan Yang Lebih Baik Dengan Israel, Tapi Terhalang Kebijakan Soal Palestina

Gunter berharap dialog akademis akan segera dimulai antara pendukung tesis Turki dan Armenia di AS. Dia menunjukkan bahwa Turki-Amerika akan bersedia melakukannya, sebaliknya Armenia-Amerika tidak pernah menerima upaya seperti itu.

Dia menekankan bahwa banyak orang Armenia di bagian barat Kekaisaran Ottoman belum dideportasi, menambahkan bahwa beberapa orang Armenia telah membunuh Muslim yang tidak bersalah selama beberapa dekade tanpa interupsi.

Baca Juga  Musuh Turki Makin Banyak, Erdogan: Anda Tidak Bisa Memakan Kami!

“Agar genosida ada secara legal dalam hukum internasional, perencanaan atau perencanaannya harus dibuktikan, dan itu belum terbukti soal ini,” ujarnya.

  • Bagikan