Ekonomi 2022 Berat, Duit Negara Banyak Habis Bayar Utang!
Foto: Infografis/Dari China Sampai Afrika, Ini 21 Negara Pemberi Utang RI/Arie Pratama

Ekonomi 2022 Berat, Duit Negara Banyak Habis Bayar Utang!

IDTODAY NEWS – Ekonom Senior Faisal Basri menyoroti kewajiban pemerintah untuk memenuhi pembayaran bunga utang dalam RAPBN 2022 yang sebesar Rp 405,87 triliun atau naik 10,8% dari outlook APBN 2021 yang sebesar Rp 366,2 triliun.

Sementara, belanja pemerintah tahun depan ditargetkan sebesar Rp 2.708,7 triliun. Artinya pembayaran bunga utang setara dengan 14,9% dari target belanja negara pada 2022.

Baca Juga  Media Asing: Langkah Pencegahan Covid-19 Di Indonesia Membuat Daya Belanja Menyusut, Perputaran Bisnis Babak Belur

“Yang meningkat tajam (dalam RAPBN 2022) adalah pembayaran bunga. Utang meningkat terus dan penerimaan pajak flat dan tax ratio hanya 8,4% dari PDB, jauh sekali, masih ada di dasar,” jelas Faisal Basri dalam Program Squawk Box CNBC Indonesia TV, Jumat (20/8/2021).

Ditambah lagi, pemerintah masih tetap akan menarik utang untuk memenuhi kebutuhan belanja di 2022. Rencananya Surat Berharga Negara (SBN) neto yang akan diterbitkan mencapai Rp 991,3 triliun.

Baca Juga  Ngeri! Begini Jadinya Jika RI Masuk Jurang Resesi

“Utang yang banyak ini, akan mengakibatkan pengeluaran paling banyak ke mana, kalau dibandingkan data 2022 dengan 2019, data yang paling tinggi adalah peningkatan bunga pinjaman 47%,” kata Faisal melanjutkan.

Faisal Basri juga memandang, target pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2022 yang dipatok sebesar 5% – 5,5% terlalu optimistis, karena proyeksinya dipatok lebih tinggi dari kondisi sebelum terjadinya pandemi Covid-19 yang biasanya hanya mencapai rata-rata 5%.

Baca Juga  Rachland Nashidik: Buah Dari ‘Kerja, Kerja, Kerja’, Kini Utang Luar Negeri Jadi Salah Satu Yang Tertinggi

Melihat postur belanja pemerintah, kata Faisal belanja pegawai naik 13% sementara belanja modal yang bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi hanya 11%.

“Isi secara detail sulit membayangkan APBN bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi, karena yang meningkat tajam adalah pembayaran bunga,” ujar Faisal.

“Jadi lebih banyak optimisme, tapi instrumen yang dimiliki pemerintah terbatas,” kata Faisal melanjutkan.

Sumber: cnbcindonesia.com

Tinggalkan Balasan