Gatot Nurmantyo: Menyelamatkan Ketahanan Pangan Harus Revolusioner Dan Radikal

Gatot Nurmantyo: Menyelamatkan Ketahanan Pangan Harus Revolusioner Dan Radikal
Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo/RMOL

IDTODAY NEWS – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional dalam sektor pertanian dan peternakan sejatinya harus dilakukan oleh kemandirian masyarakat dan dukungan kebijakan pemerintah yang berpihak.

Begitu disampaikan Pendiri Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) Jaya Suprana di sela-sela akhir diskusi daring Jaya Suprana Show dengan narasumber mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, bertajuk “Pengamat Peternakan dan Perkebunan” pada Jumat (26/2).

Bacaan Lainnya
Baca Juga  Bela Jokowi Soal Kerumunan Maumere, PDIP: Presiden Sudah Sampaikan Untuk Pakai Masker

“Jadi sekali lagi, rupanya masalah pertanian dan peternakan ini butuh suatu upaya dari pihak masyarakat untuk menciptakan kedaulatan pangan,” ujar Jaya Suprana.

Baca Juga: Termasuk Darmizal Dan Marzuki Alie, Demokrat Copot 7 Kader Dengan Tidak Hormat

Sementara itu, menurut Gatot, terkait ketahanan pangan ini tidak sepenuhnya menjadi tanggungan masyarakat. Masyarakat, kata dia, adalah pelaksana dari strategi pemerintah pemegang kendali kebijakan yang mengarah pada upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.  

Baca Juga  Sindir Mahfud MD, Gatot Nurmantyo: KAMI Luar Biasa, Baru 2 Bulan Sudah Bisa Kerahkan Jutaan Orang

“Jadi, pemerintah yang punya strategi, masyarakat yang melaksanakan. Kalau masyarakat sendiri tidak akan punya kemampuan,” kata Gatot.

Atas dasar itu, Gatot menyatakan bahwa upaya penyelamatan ketahanan pangan nasional harus berorientasi pada kemandirian dan dilakukan dengan cara-cara revolusioner dan radikal.

“Saya menyampaikan bahwa melakukan penyelamatan atau membuat ketahanan pangan dengan kemandirian kita, harus dilakukan secara revolusioner dan radikal,” tuturnya.

Baca Juga  Jika Gatot Nurmantyo Dilaporkan ke Polisi, Kapitra Siap Dampingi PPJNA 98

Jaya Suprana pun sependapat dengan Gatot. Menurutnya, cara-cara radikal (mengakar) dibutuhkan untuk mencapai target ketahanan pangan nasional. Sebab, terminologi radikal acap kali diartikan sempit, padahal memiliki makna yang luas dan mendalam.

“Jadi membutuhkan radikalisme. Memang sebetulnya arti radikal itu positif, karena itu kan sampai ke akar-akarnya,” demikian Jaya Suprana.

Baca Juga: Andi Sinulingga: Kerumunan NTT Itu Spontanitas Atau Sengaja Dirancang?

Baca Juga  Geisz Chalifah Sentil Kader PSI Pecundang, Tukang Lapor dan Sampah Demokrasi

Sumber: rmol.id

Pos terkait