Hingga Kini Serangan Belum Berhenti, China Keluarkan Peringatan Waspada Untuk Siswanya Di Australia

Hingga Kini Serangan Belum Berhenti, China Keluarkan Peringatan Waspada Untuk Siswanya Di Australia
Ilustrasi/RMOL

IDTODAY NEWS – Hingga kini, situasi pandemi dan ketegangan antara China dan Australia belum juga mereda. Hal itu berimbas tak hanya pada tingkat perdagangan dan hubungan politik, tapi juga pada sektor pendidikan.

Itu juga yang menjadi alasan Kementerian Pendidikan China (MOE) kembali mengeluarkan peringatan terbaru untuk warganya yang belajar di Australia.

Bacaan Lainnya

Dalam pengumumannya, MOE pada Jumat (5/2) mengingatkan agar para pelajar China membuat penilaian risiko penuh, dan benar-benar mempertimbangkan dengan hati-hati keputusan apakah akan kembali ke Australia atau tidak.

Mereka menilai, sejumlah ancaman dan serangkaian serangan bisa menjadi masalah serius bagi para siswa asal Tiongkok yang menempuh pendidikan di Australia. Selain itu, pandemi yang belum mereda juga membuat perjalanan internasional berisiko.  

Ini menjadi pukulan terbaru bagi Australia dari China. Mereka sekali lagi menjadi negara pertama yang mendapat peringatan dari negara tersebut di 2021, setelah sebelumnya peringatan serupa dikeluarkan pada Juni 2020 lalu.

Baca Juga  Turki - Indonesia Harus Bersatu Lawan Islamofobia

Para ahli mengatakan, langkah tersebut adalah hasil nyata dari hubungan China-Australia baru-baru ini yang telah diracuni oleh pemerintah Australia dan medianya.

“Serangan terus menerus pemerintah Australia terhadap China, yang digaungkan oleh media, terutama setelah pandemi Covid-19, telah menyesatkan orang-orang Australia lokal untuk menimbulkan permusuhan terhadap China,” kata Chen Hong, direktur Pusat Studi Australia di East China Normal University di Shanghai, seperti dikutip dari GT, Jumat (5/2).

Sementara, Asosiasi Pendidikan China untuk Pertukaran Internasional dalam laporannya mengatakan, ada semakin banyak laporan tentang pelajar China yang dianiaya dan dipukuli di Australia, yang sepertinya disebabkan oleh perbedaan ras.

Secara khusus, ada laporan seperti itu selama tiga hari berturut-turut di bulan Januari. Serangan tersebut termasuk pelecehan fisik dan penghinaan verbal seperti menggunakan kata-kata rasis seperti ‘chigga’.

“Masalah diskriminasi yang memburuk yang dihadapi siswa China di Australia telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan,” kata Chen.

Dia mengatakan bahwa dapat diramalkan bahwa pihak Australia mungkin akan membela diri dengan mengatakan bahwa laporan serangan anti-China hanya kasus-kasus yang terisolasi di negara itu, dan menuduh China bereaksi berlebihan, seperti yang terjadi setelah China mengeluarkan peringatan pada Juni 2020. .

Baca Juga  Kutuk Kartun Nabi Muhammad di Prancis, Putin: Ingat, Menghina Orang beragama, Ada Balasannya

Pakar pendidikan menyatakan dukungan untuk peringatan MOE, dengan mengatakan bahwa pembatasan perjalanan dan kebijakan China yang tidak bersahabat, serta ketidakpastian lainnya, telah membawa tekanan psikologis kepada siswa China.

Qin Lin, seorang rekan peneliti di Institut Ilmu Pendidikan Nasional China, mengatakan bahwa ada alternatif lain yang dapat dipilih siswa untuk belajar di luar negeri, seperti Inggris dan Kanada.

Dia mengatakan jumlah siswa yang pergi ke Australia menurun tajam pada tahun 2020 dan diperkirakan tidak akan banyak meningkat pada tahun 2021.

China merupakan sumber siswa internasional terbesar di Australia. Data yang dirilis oleh Departemen Dalam Negeri Australia pada 2020 menunjukkan, bahwa lebih dari 220.000 pelajar China terdaftar di Australia.

Baca Juga: Politisi Myanmar Ragukan Janji Militer Yang Akan Berkuasa Satu Tahun Saja Sampai Pemilu Mendatang

Sumber: rmol.id

Pos terkait