Jusuf Kalla: Buzzer Dibayar Membully Siapa Saja yang Mengkritik Pemerintah

Jusuf Kalla: Buzzer Dibayar Membully Siapa Saja yang Mengkritik Pemerintah
Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla. (pojoksatu.id)

IDTODAY NEWS – Mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan uneg-unegnya seputar kiprah buzzer atau pendengung. Menurutnya, buzzer dibayar membully siapa saja yang mengkritik pemerintah.

Menurut Wapres RI periode 2004-2009 dan 2014-2019 ini, pada mulanya buzzer sengaja hadir dan mendapat ruang dalam kampanye pemilu untuk menyampaikan segala hal positif kandidat yang didukungnya.

Bacaan Lainnya

Dan sebaliknya mereka juga dipersiapkan untuk mengkritisi kekurangan para kandidat lain yang menjadi lawan politik yang mereka dukung.

“Sebenarnya buzzer itu mulai pada setiap kampanye. Tapi itu biasa saja, bagaimana memuji pasangan calon yang didukungnya atau mencela lawannya,” kata JK seperti dilansir Pojoksatu.id, dari Blak-blakan Detikcom, Jumat (26/2).

Baca Juga: Jokowi Buka Izin Investasi Miras, PKS: Logika Jangan Terbalik Dong Pak

Mestinya, kerja buzzer ini sudah berhenti setelah pemilu selesai karena sudah ada pihak yang menjadi pemenangnya. Misalnya dalam hal ini, pihak yang diusung oleh buzzer.

Tapi yang terjadi kemudian justru menjadi kelompok yang terus dipelihara, dibayar untuk membully siapa saja yang mengkritik pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Baca Juga  Buruh Tantang Menteri-menteri Debat Publik soal Omnibus Law

“Mereka dibayar untuk membully siapa yang mengkritik,” jelasnya.

“Jadi tolonglah siapa itu yang bisa memperbaiki. Sebab sumber segala kekacauan adalah buzzer-buzzer itu,” katanya.

“Seharusnya sudah lah, tidak perlu lagi ada pencitraan yang macam-macam. Tidak perlu lagi merusak nama orang, biar demokrasi berjalan dengan baik,” papar JK.

Menurut JK, media massa juga sebaiknya tidak lagi ikut memberi ruang bagi buzzer.

“Anda juga ikut bertanggung jawab itu,” ujarnya.

“Jangan kasih kesempatan mereka berkomentar. Jangan kasih ruang lagi mereka berkomentar,” kata mantan Wapres JK pada video itu.

Baca Juga: Demokrat Makin Panas, Selain Moeldoko, Ibas Juga ‘Dimainkan’ Untuk Gantikan Ketum AHY

Sumber: pojoksatu.id

Pos terkait