KAMI: Kalau Percaya Ideologi Komunis Sudah Mati, Sekolahnya Belum Tamat!

KAMI
Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia atau KAMI saat deklarasi di Tugu Proklamasi. Foto: Ricardo/JPNN

IDTODAY NEWS – Sekretaris Badan Pekerja Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Syahganda Nainggolan mengatakan, ideologi komunis tidak pernah padam di Indonesia.

Menurutnya, gerakan-gerakan komunis baru bermetamorfosis dari materialistis dialektika, ke gerakan cultural ideologi.

Bacaan Lainnya

“Misal di Indonesia, ulama dipersekusi, hafiz Al-Quran dihancurkan, orang pakai celana cingkrang dibilang lain-lain. Ini merupakan kontestasi culture. Jadi, tidak mungkin sebuah ideologi mati. Kalau ada yang percaya itu, berarti sekolahnya belum tamat,” ujar Syahganda pada acara Indonesia Lawyers Club (ILC) TVOne, ang mengangkat thema ‘Ideologi PKI Masih Hidup?’, Selasa (29/9) malam.

Syahganda juga menegaskan, KAMI aktif mengingatkan kekejaman PKI bukan karena dendam.

Namun, murni karena keterpanggilan agar Indonesia tidak kembali ke masa lalu yang kelam.

“Saya tanya Pak Gatot (mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo), dendam enggak dengan PKI? Jawabnya enggak. Waktu peristiwa itu Pak Gatot berusia lima tahun. Demikian juga dengan Pak Din Syamsuddin, mengatakan hal yang sama,” katanya.

Baca Juga  Gatot Nurmantyo: Saya Justru yang Pertama Kali Mencetuskan KAMI

Syahganda juga memastikan dirinya tiga kali ditangkap di masa Orde Baru.

Demikian juga dengan sejumlah deklarator KAMI lainnya, pernah di penjara di masa Orde Baru.

Hal itu menjadi bukti KAMI tidak mungkin menggaungkan isu soal komunis hanya karena membela Orde Baru.

“Kalau tidak didialogkan (soal PKI) akan berbahaya. kami ini mengingatkan anak bangsa, jangan kembali ke historis yang kelam. Kami ini bukan kelompok kaleng-kaleng, banyak pemikir. Jadi tidak ada di sini (KAMI) orang ecek-ecek,” ucapnya.

Apa bukti nyata ideologi PKI masih hidup? Syahganda menyatakan dirinya mengamati dalam ilmu sosial.

Ia mengklaim sepanjang pengamatannya, fenomena dan gejala bangkitnya komunis gaya baru, sangat terasa.

“Mereka ini kan terbiasa bergerak di bawah tanah selama Soeharto. Mereka hanya bisa dirasakan gejalanya. Jadi yang paling penting menurut saya sebuah dialog, tanpa menyakiti umat Islam,” katanya.

Syahgnda berharap, dengan adanya rekonsiliasi maka sejarah kelam masa lalu tidak akan terulang kembali.

“Gerakan KAMI bukan aneh-aneh. kalau soal memperingati kekejaman PKI, orang Jerman tiap tahun memperingati fasis Hitler,” pungkas Syahganda.

Sumber: jpnn.com

Pos terkait