Kejatisu Tangkap Buronan Kasus Korupsi Pembuatan Peta Rawan Bencana BPBD

Kejatisu Tangkap Buronan Kasus Korupsi Pembuatan Peta Rawan Bencana BPBD
Foto: Buronan Korupsi Peta Rawan Bencana BPBD Sumatera Utara Ditangkap (Dok. Istimewa)

IDTODAY NEWS – Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) menangkap terpidana Pendi Sebayang (57) di rumahnya di Medan. Terpidana kasus korupsi pembuatan peta rawan bencana tingkat kabupaten ini ditangkap setelah sempat menjadi buronan.

Penangkapan tersebut dipimpin langsung oleh Asintel Kejatisu Dwi Setyo Budi Utomo bersama tim Kejaksaan Agung RI.

Bacaan Lainnya

“Tim menangkap terpidana DPO atas nama Pendi Sebayang (57) selaku Direktur Utama PT. Pemutar Argeo Consultan Enginering di rumahnya di Kelurahan Padang Bulan Selayang II, Kota Medan,” kata Kajati Sumut IBN Wiswantanu dalam keterangannya melalui Asintel Dwi Setyo Budi Utomo, Kamis (21/1/2021).

Pendi ditangkap pada Rabu (20/1), sekitar Pukul 20.35 WIB. Pada saat penangkapan, terpidana tidak melakukan perlawanan dan langsung dibawa ke Kantor Kejati Sumut untuk proses administrasi.

Dwi menyebutkan penangkapan itu berdasarkan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 732.k/Pid.Sus/2017 tanggal 17 Oktober 2017 dan Surat Perintah Pelaksanaan Putusan Pengadilan oleh Kepala Kejaksaan Negeri Medan Nomor: Print-21/N.2.10/Ft.2/11/2017 tanggal 20 November 2017. Pendi Sebayang terbukti melanggar Pasal 2 ayat 1 Jo Pasal 18 subsidair Pasal 3 Jo Pasal 18 UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Baca Juga  Peringati Hari HAM Internasional, Firli Bahuri: Korupsi Musuh Utama Pelaksanaan HAM Di Indonesia

“Terpidana Pendi Sebayang yang juga Ketua Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo) Sumatera Utara terlibat dalam perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi dalam pembuatan Peta Rawan Bencana Tingkat Kabupaten di Kabupaten Karo, Dairi dan Pakpak Bharat dengan nilai proyek sebesar Rp 1,4 miliar TA 2012 pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara,” sebug Dwi Setyo.

Dwi menuturkan berdasarkan putusan Mahkamah Agung, terpidana diganjar dengan hukuman 6 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan penjara.

Selanjutnya, terpidana diserahkan kepada Kejari Medan untuk melengkapi semua dokumen termasuk rapid tes antigen. Kemudian, terpidana diserahkan ke Lapas Tanjung Gusta, Medan.

Baca Juga: Soal Korupsi Dana Bansos, Guru Besar UI Berang: Orangnya Hukum Mati, Parpolnya Dibubarkan!

Sumber: detik.com

Pos terkait