Mengaku pada Media Asing, Ada Menteri yang Jengkel dan Sebut Presiden Jokowi 'Penuh Kontradiksi'
PRESIDEN Jokowi meninjau lokasi baru ibu kota negara di Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Selasa 17 Desember 2019 lalu.* /AKBAR NUGRHO GUMAY/ANTARA.(Foto: pikiran-rakyat.com)

Mengaku pada Media Asing, Ada Menteri yang Jengkel dan Sebut Presiden Jokowi ‘Penuh Kontradiksi’

IDTODAY NEWS – Di tengah pandemi Covid-19 dan pencarian korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak, sebuah laporan media asing terkait Presiden Joko Widodo (Jokowi) muncul dengan pernyataan yang mengejutkan.

Laporan Nikkei Asia mencatat komentar para pejabat dan menteri-menteri Presiden Jokowi terhadap pemerintahan Indonesia saat ini. Salah seorang menteri mengaku jengkel dengan tingkah Presiden Jokowi.

Baca Juga  Rizal Ramli: Kalau Diserahkan Pada Jokowi, Kondisi Krisis Baru Beres Satu Setengah Tahun Lagi

Menteri tersebut bahkan menyebut Presiden Jokowi sebagai ‘orang yang penuh kontradiksi’. Pernyataan sang menteri ditulis dalam laporan Nikkei Asia soal mimpi-mimpi besar Presiden Jokowi.

Penulis artikel itu menyoroti ambisi Presiden Jokowi membangun ibu kota baru di Kalimantan yang dimulai sejak tahun 2019.

Keputusan Presiden Jokowi melanjutkan proyek ibu kota negara (IKN) baru di Kalimantan Timur ini disebut-sebut membuat para menteri kelabakan.

Baca Juga  Sebelum Subuh Berdarah, Jenderal Nasution Foto Bareng dengan Aidit

Mereka menggelengkan kepala dalam keputusasaan meski tidak terkejut dengan keputusan Presiden Jokowi.

“Jokowi tidak suka analisis; Dia senang dengan aksi dan keputusan,” ucap salah satu pejabat dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Nikkei Asia.

Pejabat itu menyebut Presiden Jokowi tak pernah membangun infrastruktur yang direncanakan secara terperinci hingga layak untuk mendorong perekonomian suatu daerah.

“Sebaliknya, dia hanya mendorong proyek berdasarkan wilayah-wilayah yang dikunjunginya,” kata pejabat tersebut menyinggung aksi blusukan Presiden Jokowi.

Baca Juga  Gegara Habib Rizieq Dua Kapolda Langsung Dicopot, Ini Analisa Pengamat Intelijen, Jangan Main-main!

Presiden Jokowi yakin ibu kota negara yang dibangun dengan anggaran hingga Rp466 triliun itu akan menjadi pendorong pemerataan pembangunan di Indonesia.

Sayangnya, tak kelihatan dampak ekonomi pembangunan IKN. Bahkan, perekonomian Indonesia makin merosot gara-gara pandemi Covid-19.

Penulis laporan itu menyebut pembangunan IKN menampilkan sisi terbaik dan sisi terburuk dari Presiden Jokowi.

“Di satu sisi, dia ambisius, fokus membangun infrastruktur yang dibutuhkan dan sangat mudah menarik hati para investor asing,” kata penulis.

Baca Juga  Pengamat: Pidato Kenegaraan Jokowi Berisi Harapan Hampa

“Di sisi lain, Jokowi impulsif, tidak sabaran dengan para pakar dan cenderung mengutamakan peluncuran ide proyek yang menarik di media ketimbang mendorong reformasi,” tulisnya melanjutkan.

Laporan yang diunggah pada Rabu 16 September 2020 lalu itu juga menyebut ada seorang menteri yang jengkel pada Presiden Jokowi.

“Terinspirasi namun jengkel dengan Jokowi, salah seorang menterinya mengatakan kepada saya, ini adalah caranya untuk memahami sang presiden yang ‘penuh kontradiksi’,” kata penulis lagi.

Baca Juga  Anggota DPR Minta Penembakan 4 Laskar Dalam Mobil Diperjelas Komnas HAM

Penulis laporan Nikkei Asia itu pun membandingkan IKN dengan ibu kota negara lain seperti Brasilia di Brasil, Canberra di Australia, dan Naypitaw di Myanmar.

Menurut penulis, lokasi yang dipilih Presiden Jokowi untuk IKN cukup aneh lantaran jaraknya 1.300 kilometer dari Jakarta dan dipisahkan oleh laut.

Padahal, negara-negara lain kebanyakan memlih lokasi yang tetap terjangkau oleh ibu kota negara lama.

Baca Juga  Ada Tidaknya OTT KPK, Jokowi Harus Rombak Total Kabinetnya

“Kepemimpinan Jokowi bukan cuma kisah tentang paradoks pribadi. Dia berjuang di tengah kontradiksi yang mendasar dari Bangsa Indonesia yang luas dan beragam, yang ditempa secara terburu-buru 75 tahun lalu sesuai batas wilayah koloni Belanda yang sewenang-wenang,” kata penulis.

“Jokowi terjebak di antara demokrasi dan otoriterisme, Islam dan pluralisme, keterbukaan pasar dan proteksionisme,” ujarnya menyimpulkan.

Baca Juga: Pilpres 2024 Momentum Emas bagi Cak Imin

Baca Juga  Ahmad Basarah: Yang Doakan Bu Mega Dan Pak Jokowi Pendek Umur, Saya Doakan Dapat Hidayah

Sumber: pikiran-rakyat.com

Tinggalkan Balasan