MUI: Salat Idul Adha Tetap Bisa Dilaksanakan saat PPKM Darurat, Begini Tata Caranya

Asrorun Ni'am Sholeh
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa Asrorun Niam Sholeh menuturkan kebijakan PPKM Darurat tidak menghalangi ibadah Salat Idul Adha. Foto/SINDOnews

IDTODAY NEWS – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa Asrorun Ni’am Sholeh menuturkan kebijakan PPKM Darurat tidak menghalangi ibadah Salat Idul Adha. Merujuk pada Fatwa Nomor 36 Tahun 2020 tentang Salat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban saat Wabah Covid-19, implementasinya diserahkan kepada Pemerintah.

“PPKM Darurat tidak menghalangi kita untuk melaksanakan Salat Ied dan juga aktivitas penyembelihan kurban,” ujar Asrorun dilihat dari laman resmi MUI, Minggu (18/7/2021).

Bacaan Lainnya
Baca Juga  Luhut Binsar Panjaitan Sebut Masa Kritis Covid-19 Tinggal 2 Bulan

Lebih jauh dikatakannya, fatwa itu didasarkan upaya mewujudkan maslahat dan mencegah terjadinya mafsadat. Dia pun mengimbau kepada masyarakat untuk Salat Idul Adha di rumah saja. “Argumentasinya, rumah ibadah termasuk masjid untuk sementara tidak diperbolehkan untuk mengadakan kegiatan yang dapat menyebabkan sebuah kerumunan,” tuturnya.

Apalagi, sambung dia, Kemenag juga telah menerbitkan SE Nomor 17 2021 tentang Peribadatan yang ditiadakan sementara, termasuk pelaksanaan Salat Idul Adha ataupun malam takbiran di tempat umum. Karena lagi-lagi itu akan menyebabkan kerumunan. “Hanya saja pelaksanaannya harus memperhatikan aspek keselamatan diri dan juga orang lain, sehingga harus dipastikan tidak terjadi kerumunan,” jelas Kiai Asrorun.

Baca Juga  Mardani PKS: Semua Itu Bukan Salah Gubernur, Tetapi Pemerintah Pusat

Dia menjelaskan sunnah hai’at dan juga tata cara Salat Idul Adha tetap tidak mengalami perubahan. Sunnah hai’at adalah sunah yang ada di dalam salat, yang jika tidak dikerjakan maka tidak disunahkan untuk sujud sahwi. Bahkan untuk bab sunnahnya sebelum pelaksanaan Salat Ied juga tak berubah. Seperti disunnahkan mandi terlebih dahulu, memakai pakaian putih yang terbaik, dan memakai wangi-wangian, serta tidak dianjurkan untuk makan terlebih dahulu, berbeda dengan sebelum melakukan Salat Idul Fitri.

Baca Juga  PPKM Darurat, Menko Muhadjir Ingin Nakes Tracer Covid-19 Ditambah

Untuk pelaksanaan dan tata cara Salat Ied di Hari Raya Idul Adha, dia menyebutkan tata caranya tetap sama seperti yang tertuang dalam fatwa MUI. Waktu pelaksanaannya dimulai setelah terbit matahari dan diutamakan saat masuk waktu Dhuha sampai sebelum masuk waktu Zuhur.

Berikut tata cara melakukan shalat Ied dalam kondisi pemberlakuan PPKM berlangsung: Salat dimulai dengan menyeru “ash-shalaata jaami‘ah”, tanpa azan dan iqamah. Memulai dengan niat salat Idul Adha.

Baca Juga  MUI Tak Bakal Terbitkan Fatwa Wajib Vaksinasi COVID-19

Membaca takbiratul ihram (Allahu Akbar) sambil mengangkat kedua tangan. Membaca doa iftitah, kemudian membaca takbir sebanyak tujuh kali di luar takbiratul ihram, dan di antara takbir dianjurkan membaca Subhaanallaahi wal hamdulillaahi wa laa ilaha illallahu wallaahu akbar.

Kemudian, membaca surah Al-Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surah yang pendek dari Alquran. Selanjutnya rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti salat biasa.

Baca Juga  Airlangga Hartarto Penyintas Covid-19, Pejabat Publik Diminta Terbuka jika Terpapar

Ketika rakaat kedua, sebelum membaca Al Fatihah, disunnahkan takbir sebanyak lima kali sambil mengangkat tangan, di luar takbir saat berdiri atau akbir qiyam. Serta di antara tiap takbir disunnahkan membaca Subhaanallaahi wal hamdulillaahi wa laa ilaha illallahu wallaahu akbar.

Membaca Surah al-Fatihah, diteruskan membaca surah yang pendek dari Alquran. Rukuk, sujud, dan seterusnya hingga salam. “Setelah itu disunnahkan untuk berhutbah, tetapi jika salat sendiri tidak perlu ada khutbah,” jelasnya.

Baca Juga  Ubedilah Badrun: Cara Kerja Erick Thohir Bisa Benarkan Julukan Jokowi King Of Lip Service

Dia menambahkan, jika untuk yang belum terbiasa berkhutbah dan menjadi imam, agar mempersiapkan terlebih dahulu. Sebab, khutbah juga memiliki rukun-rukun yang harus dipenuhi. “Bisa juga dengan memegang buku naskah khutbah untuk dibaca,” pungkasnya.

Sumber: sindonews.com

Pos terkait