Pembuat Mural Mengaku Takut UU ITE, Akhirnya Pilih Gambar Tembok

  • Bagikan
Pembuat Mural Mengaku Takut UU ITE, Akhirnya Pilih Gambar Tembok
Foto: Mural yang dibuat oleh Gusman M Sidik di Jalan Braga, Kota Bandung, Jawa Barat. Foto: Wisma Putra

IDTODAY NEWS – Salah satu pembuat mural, Gusman Maulana Sidik bercerita alasan banyak orang membuat mural kritik terhadap pemerintah. Menurutnya, mereka takut dengan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Kenapa akhirnya bergeser di fasilitas publik, karena kita tahu ada UU ITE yang bikin kita takut juga. Ada beberapa aktivis, senior dan mahasiswa ini ditangkap,” ujar Gusman dalam diskusi virtual, Minggu (9/5/2021).

Baca Juga  Demokrasi Dilemahkan, Demokrat: Kritik Mural Diburu, Harun Masiku Bebas Gentayangan
Gusman Maulana Sidik Foto: Tangkap layar video Youtube.

Gusman mengaku masih berstatus sebagai mahasiswa. Dia membuat mural kritik pemerintah di Jl Braga, Kota Bandung.

Gusman menyebut, banyak akun media sosial yang semula dijadikan wadah untuk berekspresi diretas oleh aparat. Jika terus bersuara di media sosial, mereka akan ditindak oleh petugas karena dinilai melanggar UU ITE.

“Pada akhirnya diretas, harusnya negara melindungi, malah diretas dan ditangkap. Ya karena di media pribadi ini sudah nggak aman, bisa di-tracking, pemerintah punya SDM dan teknologi bisa tracking itu. Rezim hari ini agak mirip rezim Orde Baru gitu,” katanya.

Baca Juga  Inilah Beberapa Kalimat di Grup WA KAMI Yang Diungkap Polisi

Mural yang dibuat oleh Gusman M Sidik di Jalan Braga, Kota Bandung, Jawa Barat. Foto: Wisma Putra

Menurutnya, alasan penghapusan mural karena dinilai provokatif dan mengandung ujaran kebencian tidak tepat dilayangkan pada karya seni mereka. Gusman bilang, aparat sendiri pun sempat gagal paham soal makna mural yang mereka buat.

“Kalau dianggap provokatif, kebencian, ini kan nggak juga, apalagi pemerintah sendiri gagal paham, itu lambang negara menurut pasal 36A dan pasal 2 UUD 45 lambang negara kan garuda pancasila, bendera, bahasa, Bhinneka Tunggal Ika dan lagu kebangsaan,” katanya.

Baca Juga  PA 212 Butuh Berpikir Seribu Kali Untuk Dukung Prabowo Di Pilpres 2024

Lanjut Gusman, pemerintah harusnya bisa melindungi suara masyarakat, karena demokrasi akan berjalan jika terdapat kritik di dalamnya.

“Pemerintah ini begitu takut terhadap kritik sehingga kita akan terus berjuang apapun caranya. Yang jelas, kritikan akan terus dilakukan, kita tidak bisa diam, hal ini harus terus disuarakan,” kata Gusman.

Sumber: detik.com

  • Bagikan