Politisi PDIP Ribka Tjiptaning dan Moeldoko Diduga Terlibat Promosi Ivermectin, ICW: Krisis Dimanfaatkan Cari Untung

  • Bagikan
Moeldoko dan Ribka PDIP
Ribka PDIP dan Moeldoko

IDTODAY NEWS – Indonesia Corruption Watch (ICW) menelusuri dugaan keterkaitan anggota partai politik, pejabat publik, dan pebisnis dalam penggunaan obat Ivermectin untuk menanggulangi Covid-19. Polemik Ivermectin menunjukkan krisis di saat pandemi ini dimanfaatkan oleh segelintir pihak untuk mendapat keuntungan.

Peneliti ICW Egi Primayogha menjelaskan, polemik Ivermectin dimulai sejak Oktober 2020 ketika dokter dari Departemen Penelitian dan Pengembangan PT Harsen Laboratories, Herman Sunaryo, menyebutkan Ivermectin dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan Covid-19.

“Polemik lalu berlanjut pada awal Juni 2021, ketika PT Harsen Laboratories, mengumumkan telah memproduksi Ivermectin, obat yang diklaim sebagai alternatif terapi Covid-19,” kata Egi dalam keterangannya, Kamis (22/7).

Baca Juga  Moeldoko Minta Masyarakat Tak Unjuk Kekuatan Respons Pemeriksaan Habib Rizieq Shihab

“Selang beberapa waktu kemudian, Menteri BUMN mengirimkan surat ke BPOM dengan nomor S-330/MBU/05/2021 yang berisi pengajuan permohonan penerbitan Emergency Use Authorization untuk Ivermectin. Setelah mendapat peringatan dari BPOM, Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan akan memproduksi Ivermectin sebanyak 4,5 juta dosis yang akan diedarkan oleh PT Indofarma,” sambungnya.

Egi juga menyampaikan, distribusi Ivermectin menambah daftar panjang obat-obat yang ditawarkan oleh pemerintah meskipun belum dilakukan uji klinis yang tepat. Selama 18 bulan pandemi, pemerintah telah mengedarkan obat seperti Chloroquine, Avigan, wacana Vaksin Nusantara, hingga Ivermectin.

Baca Juga  Bioskop Diklaim Tingkatkan Imunitas, Pengamat: Perlu Kajian Matang

Menurutnya, terdapat potensi rentseeking dari produksi dan distribusi Ivermectin. Praktik itu diduga dilakukan oleh sejumlah pihak untuk memperkaya diri dengan memanfaatkan krisis kesehatan.

“ICW ikut menemukan indikasi keterlibatan anggota partai politik dan pejabat publik dalam distribusi Ivermectin,” papar Egi.

Berdasarkan penelusuran ICW, lanjut Egi, Ivermectin akan diproduksi oleh PT Harsen Laboratories, perusahaan yang bergerak dibidang farmasi, dengan merek Ivermax 12. Dia menduga, perusahaan tersebut dimiliki oleh pasangan suami-istri Haryoseno dan Runi Adianti.

“Kedua nama tersebut tercatat dalam dokumen Panama Papers dan diketahui terafiliasi dengan perusahaan cangkang bernama Unix Capital Ltd yang berbasis di British Virgin Island,” papar Egi.

Baca Juga  Ahok Berpeluang di Pilpres 2024? Alumni 212 Langsung Bereaksi

Sebelum pandemi Covid-19, PT Harsen Laboratories pernah menjalin hubungan kerjasama dengan PT Indofarma dalam pendistribusian obat. Berdasarkan laporan konsolidasian, lanjut Egi, PT Indofarma pada 2020, tercatat memiliki utang ke PT Harsen Laboratories sebesar Rp 8.579.991.938 per 30 Juni 2020.

“Jumlah ini meningkat dari 31 Maret 2019 yang berjumlah Rp 3.238.035.238,” beber Egi.

Dia menyampaikan, salah satu nama yang terafiliasi dengan PT Harsen Laboratories adalah Sofia Koswara. Dia adalah Wakil Presiden PT Harsen dan mantan CEO dari B-Channel. Sofia Koswara juga menjabat sebagai Chairwoman Front Line Covid-19 Critical Care (FLCCC) di Indonesia.

Baca Juga  Tokoh Sumbar: Puan Hanya Khilaf, Tak Patut Kita Tak Memberikan Maaf

“Adapun warga Indonesia lainnya yang berada di FLCCC adalah Budhi Antariksa, bagian dari Tim Dokter Presiden, serta dokter paru-paru di Rumah Sakit Umum Persahabatan dan pengajar plumnologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Budhi juga merupakan ketua tim uji klinis Ivermectin di Indonesia,” ungkap Egi.

Keterlibatan pejabat publik, kata Egi, diindikasikan melalui kedekatan antara Sofia Koswara dan Haryoseno dengan Moeldoko yang saat ini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan sekaligus Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Sejak 2019, PT Noorpay Nusantara Perkasa, perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh Sofia Koswara menjalin hubungan kerjasama dengan HKTI terkait program pelatihan petani di Thailand.

Baca Juga  Kaleidoskop 2020: Moeldoko Sindir Gatot Nurmantyo hingga Habib Rizieq

“Pada awal Juni lalu, Ivermectin didistribusikan ke Kabupaten Kudus melalui HKTI. Selain itu, anak Moeldoko, Joanina Rachman, merupakan pemegang saham mayoritas di PT Noorpay Nusantara Perkasa,” beber Egi.

Selain Sofia Koswara, Egi menyebut anggota direksi lain di PT Harsen Laboratories adalah Riyo Kristian Utomo yang menjabat sebagai Direktur Pemasaran. Dia menuturkan, Riyo merupakan anggota PDI Perjuangan dan menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Komunikasi dan Budaya di DPC PDIP Tangerang Selatan.

Baca Juga  Moeldoko: Apa yang Harus Direkonsiliasi dengan Habib Rizieq?

Menurut Egi, Riyo merupakan anak kandung dari anggota fraksi PDIP Ribka Tjiptaning Proletariyati. Ribka adalah anggota Komisi Energi, Riset, dan Teknologi.

“Sebelumnya ia merupakan anggota Komisi Kesehatan namun dipindah akibat menyatakan menolak vaksin Covid-19 dalam sidang rapat kerja Komisi Kesehatan. Ribka menjabat sebagai Ketua Bidang Penanggulangan Bencana (Baguna) PDIP. Pada April 2020, ditemukan video amatir yang menunjukan Baguna tengah membagi-bagi sembako dan masker yang disediakan oleh PT Harsen dan diterima oleh Ribka Tjiptaning selaku ketua Baguna PDIP,” cetus Egi.

Baca Juga  Tokoh KAMI Ditangkap Polisi, Ini Reaksi Din Syamsuddin

Egi juga memandang, fenomena tersebut kian menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 digunakan sebagai alat untuk mencari keuntungan dan memperkaya diri. Presiden Joko Widodo bahkan tidak menindak tegas pejabatnya yang diduga terlibat dalam konflik kepentingan distribusi Ivermectin.

“Alih-alih demikian, ia bahkan membuka ruang perburuan rente dengan membiarkan instansi tertentu campur tangan dalam penanganan covid di luar tugas dan kewenangannya,” tandas Egi.

Sementara itu, Moeldoko dan Ribka Tjiptaning tidak menggubris konfirmasi yang dilayangkan JawaPos.com terkait namanya yang muncul dalam penelusuran ICW dalam distribusi Ivermectin.

Sumber: jawapos

  • Bagikan