Rumor Sakitnya Megawati dan Cerita Pingsannya Bung Karno

  • Bagikan
Megawati
Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri/Net

Oleh Selamat Ginting
Analisis politik Unas dan eks wartawan Republika

Sejak Kamis (9/9/2021), informasi seputar kondisi kesehatan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (74 tahun), menyita perhatian saya. Apakah betul Megawati mengalami stroke dan dirawat di RSPP Jakarta?

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak keluarga. Memang ada penjelasan dari Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto yang membantah rumors tersebut.

Tapi sebagian publik tak lagi percaya Hasto. Terutama setelah namanya dikaitkan dengan kasus suap aktivis PDIP Harun Masiku. Sudah sekitar dua tahun Harun Masiku menghilang.

Baca Juga  Semakin Otoriter, Pemerintah Akan Rampas Independensi BI

Publik menunggu jawaban langsung dari Ketua Umum DPP PDIP Megawati. Minimal ada gambar aktivitasnya untuk menjawab keraguan publik. Tetapi hingga kini, belum ada jawaban dari Megawati.

Megawati adalah orang kuat dalam blantika politik Indonesia. Ia ketua umum terlama dalam sejarah partai politik Indonesia. Menjadi ketua umum selama 28 tahun. Bisa jadi, ia juga salah satu ketua umum partai politik terlama di dunia.

Baca Juga  Soal Megawati Dua Kali Kecolongan, Demokrat Minta Jangan Ada yang Adu Domba SBY dan Megawati

Sebuah ironi partai menyandang nama demokrasi, namun tidak ada sirkulasi posisi ketua umum. Sama ironinya dengan partai menyandang nama Demokrat, namun ‘dikuasai’ keluarga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Entah model demokrasi apa yang digunakan oleh Megawati dan SBY, dua mantan Presiden RI. Publik tentu punya persepsi masing-masing.

Kembali ke soal rumor kondisi kesehatan Megawati. Wajar saja jika kondisi kesehatannya tidak lagi prima. Apalagi usianya 74 tahun. Adiknya, Rachmati belum lama wafat pada usia 71 tahun. Ayah mereka, mantan Presiden Sukarno, wafat dalam usia 69 tahun.

Baca Juga  Megawati Sebut Akhyar Ngamuk karena Tak Direkomendasikan

Saat Sukarno jatuh sakit pada 4 Agustus 1965. Ia menderita vasospasme serebral, penyempitan pembuluh darah arteri otak. Dunia politik Indonesia juga berubah dengan cepat. Bahkan memicu eskalasi ketegangan sebelum peristiwa Gerakan 30 September 1965/Partai Komunis Indonesia (G.30S/PKI).

Sakitnya Bung Karno juga membuat Perdana Menteri Cina Zhou Enlai gusar. Ketua CC PKI DN Aidit yang sedang mengunjungi Pemimpin Cina Mao Zedong pun segera balik ke Tanah Air. Begitu juga Wakil Ketua Central Committee (CC) PKI Nyoto segera balik dari Uni Soviet.

Baca Juga  Pulihkan Citra Polri Dan TNI Dengan Pencopotan Kapolda Dan Pangdam Jaya

Cina khawatir jika Sukarno meninggal dunia, Indonesia akan dipimpin Jenderal AH Nasution yang anti PKI dan dekat dengan kelompok Islam serta diduga akan didukung Amerika Serikat. PKI memprediksi jika Nasution yang menjadi Presiden, PKI akan ‘dihabisi’. Begitulah pembahasan pembicaraan Aidit dengan Mao Zedong.

PKI segera membuat angkatan kelima di luar Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), Angkatan Udara (AU), dan Polri. Yakni buruh dan tani dipersenjatai. Senjata-senjatanya dari Cina, seperti senjata Cung. Jenderal Nasution dan Jenderal Ahmad Yani secara terbuka menentang angkatan kelima.

Baca Juga  Jenderal (Purn) Ikut Aksi Demonstrasi

Presiden Sukarno kecewa kepada Jenderal Yani yang sependapat dengan Nasution. Aidit lebih memilih mengambil aksi ‘terlebih dahulu’. Meletuslah peristiwa G30S bersamaan dengan Hari Nasional Cina (RRC) 1 Oktober 1965.

Kembali ke soal kondisi kesehatan Megawati. Tentu doa terbaik untuk Presiden ke-5 RI. Namun, jika betul Megawati sakit, bahkan bila hingga wafat secara alamiah, akan mengubah peta politik di kandang banteng.

Baca Juga  Yang Dibutuhkan Rakyat Sekarang Kepemimpinan, Bukan Blusukan

Faksi-faksi berdasarkan fusi partai tahun 1973 akan muncul kembali. Siapa yang akan menjadi ketua umum pengganti Megawati? Posisi anaknya, Puan Maharani belum begitu kuat, baik secara nasional maupun di dalam partai.

Berjuta baliho Puan belum mampu mengangkat popularitas dan elektabilitasnya. Termasuk di dalam partainya. Dan sudah barang tentu akan terjadi gonjang-ganjing politik nasional yang dahsyat.

Apakah petugas partai, Presiden Jokowi akan tergoda untuk ‘ambilalih’ partai mocong putih? Kita tunggu dinamika politik tingkat tinggi di Tanah Air.(*)

  • Bagikan