Sindiran Balik Sri Mulyani ke Rizal Ramli soal Pengemis Utang

Sri Mulyani
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan paparan saat konferensi pers terkait dampak virus corona di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/3). (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

IDTODAY NEWS – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hingga pihak Kantor Staf Presiden (KSP) buka suara terkait pedasnya kritikan Rizal Ramli soal utang pemerintah.

Ekonom senior itu kembali mengkritik utang pemerintah mulai sari bunganya yang mahal, hingga strategi pemerintah dalam mengelola utang. Dia menyebut strategi pemerintah ‘pengemis utang bilateral’.

Bacaan Lainnya

Hal itu diungkapkannya melalui akun Twitter pribadinya, @RamliRizal. Tidak tinggal diam, Sri Mulyani dan pihak KSP pun buka suara terkait hal tersebut.

Sri Mulyani mengungkapkan akhir-akhir ini ada orang yang suka membicarakan utang pemerintah. Dirinya pun meminta para pejabat eselon I Kementerian Keuangan untuk menjelaskan ke publik mengenai kondisi utang pemerintah.

Dia meminta khususnya kepada Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Luky Alfirman untuk memberikan informasi seminggu sekali mengenai kondisi utang pemerintah.

“Ada orang hari-hari ini suka bicara masalah utang, sampaikan saja bahwa di Perpres 72 waktu anggaran APBN 2020 dengan estimasi defisit sekian, itu pembiayaannya adalah dari SBN, pinjaman, ada yang bilateral maupun multilateral,” kata Sri Mulyani dalam video conference tentang APBN KiTa edisi November, Senin (23/11/2020).

Baca Juga  Survei IDM, Mayoritas Masyarakat Nyatakan Pemerintahan Jokowi Tidak Dikelola secara Clean Goverment

Dalam pernyataan mengenai utang pemerintah, Sri Mulyani tidak menyinggung nama yang mempermasalahkan soal utang pemerintah tersebut.

“Jadi waktu kita sedang menjalankan Perpres jangan kemudian muncul reaksi-reaksi, seolah-olah kita seperti orang yang belum punya rencana. Itu kan semuanya isu dari Perpres 72 sudah diomongkan, sudah disampaikan ke publik,” jelas Sri Mulyani.

Sri Mulyani meminta Luky untuk menjelaskan defisit APBN 2020 yang sudah dilebarkan ke level 6,34% beserta strategi pembiayaan pemerintah di tahun 2020. Bahkan, dia minta agar rincian penerbitan utang pemerintah juga bisa disampaikan ke publik.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini bahkan mengatakan utang semua negara mengalami peningkatan, tak hanya Indonesia. Utang setiap negara terus meningkat karena pandemi virus Corona.

Ia mencontohkan, untuk negara-negara G20, jumlah utang meningkat rata-rata mulai dari 30% hingga 50% karena krisis yang disebabkan oleh pandemi.

“Untuk G20 terlihat mereka rata-rata utang selama ini sebelum krisis kemudian 100% dari GDP, sekarang melonjak ke 130%, untuk emerging country rata-rata 50% GDP dan naik ke 50-70%” katanya.

Sementara untuk total utang Indonesia sendiri tercatat hingga akhir September 2020 mencapai Rp 5.756,87 triliun.

Dengan angka tersebut maka rasio utang pemerintah sebesar 36,41% terhadap PDB. Total utang pemerintah terdiri dari pinjaman sebesar Rp 864,29 triliun dan surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 4.892,57 triliun.

Baca Juga  Rizal Ramli: Menkeu Terbaik Semakin Lihai Cari Kambing Hitam

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Donny Gahral Adian sendiri langsung membantah pernyataan Rizal Ramli. Dia bilang, bunga surat utang saat ini menurun.

Bahkan, Donny menegaskan kebijakan pembiayaan utang diambil untuk program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang saat ini terdampak hebat oleh pandemi COVID-19.

“Surat utang bunganya justru turun. Kedua, kebijakan utang bukan untuk bayar bunga utang tapi untuk pemulihan ekonomi nasional, itu pun masih proporsional,” kata Donny.

Dengan kondisi seperti sekarang, Donny menegaskan, pemerintah bukan mengemis melainkan mengambil kebijakan pembiayaan utang dengan kalkulasi yang matang.

“Pemerintah berutang dengan penuh kalkulasi, tidak mengemis-ngemis,” ungkap dia.

Baca Juga: Fadli Zon Tak Terima Anak-Mantu Habib Rizieq Dipanggil Polri: Urusannya Apa

Sumber: detik.com

Pos terkait