Kasian Banget, Hanya Karena Dianggap Melawan, Anak Korban Penggusuran di Pubabu NTT Dikeluarkan dari Sekolah

Anak Korban Penggusuran di Pubabu NTT Dikeluarkan dari Sekolah
Foto: Ilustrasi/detikcom

IDTODAY NEWS – Nasib warga Pubabu, Kecamatan Basipae, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Nusa Tenggara Timur (NTT) semakin terpuruk. Setelah digusur dari tempat tinggalnya oleh aparat, anak-anak mereka juga dikeluarkan dari sekolah dengan alasan melawan pemerintah.

Siswa SMK Negeri 1 Soe, Denny Sae mengaku masih ingin bersekolah, namun sejak peristiwa penolakan relokasi oleh orang tuanya pihak sekolah memberikan hukuman skorsing.

Bacaan Lainnya

“Saya dianggap melawan kebijakan pemerintah. Saya dihukum skorsing tidak boleh sekolah di situ,” katanya, Jumat (21/8/2020).

Denny mengaku ingin melanjutkan studinya agar tidak putus di tengah jalan demi meraih masa depan. “Saya bingung harus ke sekoah yang mana agar bisa menyelesaikan studi,” ucapnya.

Pihak SMK memang hanya memberitahukan hukuman skorsing kepada siswa dari Desa Pubabu, Besipae. Mereka tidak berani kembali bersekolah.

Warga Pubabu, Besipae yang digusur dari rumahnya kini tinggal di tenda-tenda darurat yang dibangin seadanya dengan terpal plastik dan beralaskan tanah.

Warga Pubabu, Besipae, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Matheda Esterina Selan, mengatakan anak-anak di Besipae saat ini masih mengalami trauma mendalam akibat tindakan intimidatif dari aparat keamanan di daerah setempat.

Baca Juga  Pembukaan Lockdown Gedung DPRD DKI Menunggu Arahan Prasetio

“Sampai sekarang anak-anak kami menangis terus, mereka mengalami trauma yang berat karena tindakan aparat di Besipae,” katanya.

Dia mengatakan, trauma yang dialami anak-anak ini akibat tindakan intimidatif yang dilakukan aparat keamanan dengan menembakan gas air mata di sekitar warga Besipa yang saat itu pada Selasa (18/8). Peristiwa didokumentasikan dalam bentuk video yang beredar luas di media sosial.

Di antara para warga, lanjut dia, terdapat bayi yang berusia dua bulan, tiga bulan, dan tujuh bulan serta anak-anak usia PAUD dan SD.

“Mereka kaget dan ketakutan hingga sekarang terus menangis. Tembakan gas air mata itu dilakukan tiga kali dan yang terakhir persis di samping tempat kami berkumpul bersama anak-anak,” kata ibu dari tiga orang anak itu.

Pos terkait