Tentara Myanmar
Tentara Myanmar Akui Pembunuhan Massal dan Pemerkosaan pada Rohingya/Republika

Tentara Myanmar Blak-blakan Akui Pernah Lakukan Hal Bejad Ini Pada Muslim Rohingya

IDTODAY NEWS – Dua tentara Myanmar mengakui untuk pertama kali berbagai kejahatan yang dilakukan tentara pada minoritas Rohingya.

Dua tentara yang membelot itu memberi pernyataan di kamera bahwa mereka diperintah melakukan pembunuhan massal dan pemerkosaan pada 2017.

NGO Fortify Rights menyatakan testimoni dua tentara itu dapat digunakan sebagai bukti kejahatan terhadap kemanusiaan di Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).

Baca Juga  Myanmar Blokir Media Sosial Usai Rakyat Memberontak

Salah satu pernyataan tentara itu mengklaim pria, wanita dan anak-anak Rohingya dikubur dalam kuburan massal. Menurut kelompok hak asasi manusia (HAM) itu, dua tentara tersebut melarikan diri dari Myanmar bulan lalu dan berada di tahanan ICC di Den Haag.

Myo Win Tun dan Zaw Naing Tun dilaporkan memberikan nama dan pangkat 19 pelaku langsung dari militer Myanmar, termasuk mereka sendiri, serta enam komandan senior yang mereka klaim memerintahkan atau terlibat dalam kejahatan terhadap Rohingya.

Baca Juga  Joe Biden Bekukan Akses USD 1 Miliar Milik Para Jenderal Myanmar Imbas Kudeta

Menurut Myo Win Tun, komandan Pusat Operasi Militer ke-15 memberi perintah untuk “menembak semua yang Anda lihat dan semua yang Anda dengar” saat menggerebek desa-desa Muslim Rohingya.

Mereka tampaknya membunuh dan mengubur delapan wanita, tujuh anak dan 15 pria serta warga lanjut usia dalam satu operasi. “Kami juga memerkosa wanita Muslim sebelum menembak mereka. Di sana ada kopral, sersan dan perwira yang memerkosa wanita Muslim. Saya juga memerkosa satu kali,” ungkap Myo Win Tun.

Baca Juga  Profesor Indonesia Penyabet Gelar Dosen Terbaik di Universitas Jerman

Pemerintah Myanmar secara konsisten menyangkal tuduhan genosida terhadap minoritas Muslim Rohingya. Awal tahun ini pemerintah mengklaim semua tuduhan itu berdasarkan gambaran situasi yang telah bias setelah ICC memerintahkan Myanmar mencegah pembersihan etnik Rohingya.

PBB menyatakan sebanyak 10.000 orang dibunuh dan lebih dari 700.000 orang melarikan diri dari Rakhine, sejak militer Myanmar pada 2017 melancarkan operasi menumpas Laskar Penyelamatan Arakan Rohingya (ARSA).

Baca Juga  Diambang Perang, Bangladesh Siapkan Peralatan Tempur Untuk Menghadapi Myanmar

Ribuan wanita dan gadis Rohingya telah diperkosa dan antara 2017 dan 2019, sekitar 200 desa Rohingya diratakan dengan tanah.

Sumber: sindonews

Tinggalkan Balasan