IDTODAY NEWS – Polemik anggaran mobil dinas jabatan bagi Pimpinan KPK mengemuka. Salah seorang Pimpinan KPK angkat bicara mengenai kontroversi itu.

Informasi mengenai anggaran mobil dinas jabatan untuk Pimpinan dan Dewan Pengawas (Dewas) KPK itu dibenarkan Komisi III DPR. Mobil dinas untuk Ketua KPK dianggarkan sebesar Rp 1,45 miliar. Sedangkan untuk 4 Wakil Ketua KPK, masing-masing dianggarkan Rp 1 miliar. Spesifikasinya mobil 3.500 cc.

Sementara itu, untuk mobil jabatan 5 Dewas KPK, masing-masing dianggarkan Rp 702 juta sehingga totalnya Rp 3,5 miliar lebih. Anggaran mobil Rp 702 juta itu juga disiapkan untuk 6 pejabat eselon I KPK. Selain itu, ada anggaran mobil dinas jabatan untuk eselon II di KPK.

Kritik pun bermunculan hingga Dewas KPK tegas menolak. Belakangan KPK memutuskan meninjau ulang penggunaan anggaran itu.

“Penentuan terkait degan tinjau pengadaan ini tentu diadakan rapat pimpinan dan beberapa pejabat struktural dari pagi. Sehingga dengan melihat dan dengar segala masukan diputuskan ditinjau ulang,” kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri, kepada wartawan, Jumat (16/10/2020).

Pimpinan KPK mulai dari ketuanya Firli Bahuri hingga keempat wakilnya yaitu Nawawi Pomolango, Alexander Marwata, Lili Pintauli Siregar, dan Nurul Ghufron awalnya masih menutup mulut. Lantas, pada hari Senin, 19 Oktober 2020 Nurul Ghufron menjadi pimpinan KPK pertama yang angkat bicara.

Baca Juga  DPR Desak PBB Selidiki Asal-usul Corona, Peringatan Tuhan Atau Buatan Manusia

Apa kata Ghufron?

Awalnya Ghufron memberikan tanggapan atas kritik dari Indonesia Corruption Watch (ICW). Ghufron lantas mempersilakan ICW untuk datang langsung ke kediamannya.

“Saya berterima kasih atas perhatian ICW, sebagai subjek yang dinilai saya mempersilakan publik untuk menilainya, saya tidak akan menerima pun tidak akan menolak,” ucap Ghufron.

“Silakan saja ke rumah saya, untuk melihat rumah kontrakan saya, lihat makanan saya, lihat kendaraan, pakaian dan semua yang ada. Setelah itu saya akan menerima apapun penilaiannya,” imbuh Ghufron.

Mengenai mobil dinas, Ghufron menyebut KPK sebagai aparatur negara mendapatkan fasilitas tersebut. Dia pun mengaku mengikuti aturan yang ada.

“Tentang mobil dinas, KPK sebagai aparatur negara difasilitasi menurut peraturan salah satunya adalah transportasi, namun karena belum ada fasilitas tersebut diganti dengan tunjangan transport sehingga selama ini Pimpinan KPK menggunakan mobil pribadi untuk kegiatan dinasnya. Penganggaran mobil dinas tersebut sesungguhnya pun sudah beberapa kali dalam tahun-tahun anggaran sebelumnya diajukan ke DPR, bukan hanya tahun 2021 2021 ini, namun karena kondisi ekonomi belum diberikan,” kata Ghufron.

Baca Juga  Jokowi Belum Usulkan Calon Panglima TNI, Syarif Hasan: Semakin Cepat Diajukan, Semakin Baik

“Tentang harga mobil, KPK tidak menentukan tentang standar mobil dan harganya, itu semua diatur dalam peraturan tentang standar fasilitas aparatur negara dengan segala tingkatannya bahkan KPK meminta standar yang paling minim harganya. Apapun itu saya pribadi menyampaikan terima kasih atas perhatian publik, saya yakin itu karena cintanya pada KPK,” imbuh Ghufron.

Setelah itu detikcom mampir ke kediaman Ghufron di kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Rumah kontrakan itu berlantai dua dan didominiasi cat oranye.

Saat detikcom mampir ke rumah yang berpagar hitam itu tampak ada 2 motor yang terparkir. Ada pula carport yang muat untuk 1 mobil.

Halaman rumah tak terlihat luas, hanya diisi dua bangku besi beserta satu meja. Terlihat ada beberapa tanaman di depannya. Begitu masuk ke dalam rumah terlihat ruang tamu dengan 3 kursi kayu berwarna hijau dan satu meja.

Lemari hias tampak menjadi pemisah antara ruang tamu dengan ruang keluarga. Sementara itu di ruang keluarga terdapat sofa dengan TV LED.

Baca Juga  Penjelasan Sri Mulyani Sama seperti Ferdy Sambo, Tak Masuk Akal!

Ruang keluarga pun dilengkapi dengan akuarium memanjang yang dihiasi ikan-ikan kecil. Lalu tampak ada ruang makan di balik akuarium itu. Menu makanan yang dimasak istri Ghufron hari ini adalah sayur lodeh dan tempe mendoan.

Aisyah, istri Ghufron, bercerita bila awalnya tinggal berpisah dari suaminya. Sebab, sebelum Ghufron menjadi pimpinan KPK bekerja di Jember, Jawa Timur sebagai dosen.

“Sebelumnya bapak sendirian di sini. Saya bolak-balik, bapak bolak-balik. Sejak bapak di sini, sejak pelantikan itu Desember apa November ya, karena saya kerja di sana jadi bolak-balik,” ujar Aisyah.

Aisyah sendiri juga merupakan seorang dosen. Sejak pandemi virus corona Aisyah pun menyusul Ghufron ke Jakarta karena kegiatan perkuliahan dilakukan secara online.

“Rumah kontrakan karena kami aktivitas kan di Jember jadi nggak di sini memang, bukan orang sini, pendatang ya, jadi sewa, sewanya sengaja nyari rumah yang ada barangnya itu aja praktis pertimbangannya karena ya itu tadi sama-sama pendatang,” imbuhnya.

Sumber: detik.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan