Isu Kudeta Bikin AHY, Moeldoko dan Demokrat Semakin Populer

Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (tengah). (Foto: SINDOnews)

IDTODAY NEWS – Isu kudeta di tubuh Partai Demokrat dinilai memiliki tren sentimen positif dan negatif bagi Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko dan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Direktur Eksekutif Indonesia Public Institut (IPI), Karyono Wibowo menyatakan, jika dicermati dari pemberitaan, sentimen isu tersebut bisa berdampak terhadap citra kelembagaan Demokrat sebagai partai politik dan juga pemerintah. Sebab isu ini dikaitkan dengan keterlibatan Moeldoko.

Baca Juga  Isu KLB Digelar di Sibolangit, Ketua DPD Demokrat Heri Zulkarnaen Bereaksi Begini

“Tetapi untuk mengukur besar kecilnya prosentase frekuensi dan sentimen positif-negatif secara kuantitatif tentu harus melalui penelitian semacam media tracking atau penelusuran pemberitaan yang terkait isu tersebut,” ujar Karyono kepada SINDOnews, Kamis (11/2/2021).

Untuk saat ini, lanjut Karyono, keuntungan politik dari polemik pemberitaan tentang isu pengambilalihan kepemimpinan Demokrat adalah popularitas bagi AHY dan Moeldoko, dan Partai Demokrat.

Baca Juga: Jokowi: Vaksin Covid-19 Bukan Barang Mudah, Ini Rebutan!

Baca Juga  Jokowi Disebut yang Menginginkan FPI Dibubarkan Setelah Menerima Keluhan dari Pengusaha

Setidaknya, sambung dia, ketiga nama itu semakin dikenal luas masyarakat. “Bagi Moeldoko yang belum sepopuler AHY, bisa mendapat manfaat secara politik (political benefits), minimal namanya semakin dikenali publik,” tuturnya.

Namun demikian, Karyono menilai dalam pertarungan politik elektoral dengan sistem pemilihan langsung, seorang kandidat calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) tidak cukup hanya memiliki ketenaran. Baca juga: Partai Demokrat Dalami Keterlibatan Kader Lain dalam Kudeta AHY

Baca Juga  PPKM Diperpanjang Hingga 8 Februari, Airlangga: Untuk Kemaslahatan Masyarakat

Untuk memenangkan kompetisi sekurang-kurangnya harus memiliki setidaknya enam modal, yaitu popularitas (popularity), disukai (likeable), dapat diterima (acceptable), tingkat keterpilihan (electability), uang (money) dan dukungan partai.

“Karenanya, semua kandidat baik Moeldoko maupun AHY tidak cukup hanya bermodalkan popularitas tetapi harus memiliki enam modal seperti tersebut di atas,” tuturnya.

Baca Juga: Polri Imbau Masyarakat Tidak Spekulasi Penyebab Kematian Ustadz Maaher

Sumber: sindonews.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan