KPK Periksa Bupati Semarang Terpilih Terkait Kasus Suap Bansos

  • Bagikan
KPK Periksa Bupati Semarang Terpilih Terkait Kasus Suap Bansos
Menteri Sosial Juliari Batubara masuk ke mobil tahanan, seusai menjalani pemeriksaan terkait korupsi bansos Covid-19, di kantor KPK, Jakarta, Minggu (6/12/2020). (Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao)

IDTODAY NEWS – Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan memeriksa Bupati Semarang Terpilih, Ngesti Nugraha dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kabupaten Semarang, Kamis (25/2/2021).

Ngesti bakal diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap pengadaan bantuan sosial (bansos) Covid-19 untuk wilayah Jabodetabek yang telah menjerat mantan Menteri Sosial Juliari P. Batubara.

Keterangan Politikus PDIP itu dibutuhkan penyidik untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kementerian Sosial, Matheus Joko Santoso.

Baca Juga  Sufmi Dasco: Menurut Islam Penangkapan Edhy Prabowo Musibah

“Ngesti Nugraha, Ketua DPC PDIP Kabupaten Semarang akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka MJS (Matheus Joko Santoso),” kata Plt Jubir KPK, Ali Fikri dalam keterangannya, Kamis (25/2/2021).

Selain Ngesti, penyidik juga menjadwalkan memeriksa sejumlah politikus PDIP lainnya, seperti Ketua Komisi DPRD Kabupaten Kendal, Munawir dan mantan Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Ihsan Yunus.

Tidak hanya itu, tim penyidik juga menjadwalkan memeriksa dua Anggota tim pengadaan bansos untuk penanganan Covid-19, Firmansyah dan Rizki Maulana.

Baca Juga  PDIP Kritik Anies Tutup Holywings, Aktivis Jakarta: Dendam Pilkada DKI 2017 Terus Disuarakan

Lembaga antikorupsi juga menjadwalkan memeriksa Direktur PT Asri Citra Pratama Mutho Kuncoro. Seperti halnya Ngesti, pemeriksaan para saksi itu juga untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka Matheus.

Baca Juga: Gubernur Sulsel Ditangkap KPK, Dulu Tsamara PSI Bilang Nurdin Abdullah Tokoh Anti Korupsi

Belum diketahui apa yang bakal didalami penyidik terhadap para saksi tersebut. Namun demikian, belakangan KPK sedang mengusut aliran uang serta keterlibatan pihak lain dalam kasus dugaan suap pengadaan bansos Covid-19.

Baca Juga  KPK Cecar Broker Soal Aliran Dana dari Tersangka Suap Bansos ke Dirjen Linjamsos

Dalam kasus ini, Juliari bersama dua Pejabat Pembuat Komitmen Kementerian Sosial (PPK Kemsos), Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono diduga menerima suap senilai sekitar Rp 17 miliar dari Presiden Direktur PT Tigapilar Agro Utama atau Tigra, Ardian Iskandar Maddanatja dan Sekretaris Umum Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jakarta Pusat periode 2017-2020, Harry Sidabuke.

Baca Juga  Periksa Juliari Batubara, KPK Buka Penyelidikan Baru Kasus Bansos

Ardian dan Harry diduga menyuap Juliari dan dua anak buahnya untuk dapat menggarap proyek pengadaan paket bansos Covid-19 untuk wilayah Jabodetabek tahun 2020.

Kasus ini bermula dari pengadaan bansos penanganan Covid-19 berupa paket sembako di Kementerian Sosial tahun 2020 dengan nilai sekitar Rp5,9 triliun dengan total 272 kontrak pengadaan dan dilaksanakan dengan dua periode.

Juliari selaku Menteri Sosial menujuk Matheus Joko Santoso dan Adi Wahyono sebagai Pejabat Pembuat Komitmen dalam pelaksanaan proyek tersebut dengan cara penunjukkan langsung para rekanan.

Baca Juga  PKS: Jangan Sampai Gara-Gara RUU Ciptaker Para Kiai Dijebloskan ke Penjara

Diduga disepakati adanya fee dari tiap-tiap paket pekerjaan yang harus disetorkan para rekanan kepada Kementerian Sosial melalui Matheus Joko Santoso. Fee untuk setiap paket bansos disepakati oleh Matheus dan Adi Wahyono sebesar Rp 10 ribu per paket sembako dari nilai Rp 300 ribu per paket bansos.

Selanjutnya Matheus dan Adi pada Mei sampai dengan November 2020 membuat kontrak pekerjaan dengan beberapa supplier sebagai rekanan yang diantaranya Ardian IM, Harry Sidabuke dan juga PT Rajawali Parama Indonesia (RPI) yang diduga milik Matheus. Penunjukan PT RPI sebagai salah satu rekanan tersebut diduga diketahui Juliari dan disetujui oleh Adi Wahyono.

Baca Juga  Ali Taher Parasong Meninggal Dunia, PAN Berduka Nasional

Pada pelaksanaan paket bansos sembako periode pertama diduga diterima fee Rp 12 miliar yang pembagiannya diberikan secara tunai oleh Matheus kepada Juliari Batubara melalui Adi dengan nilai sekitar Rp 8,2 miliar.

Pemberian uang tersebut selanjutnya dikelola oleh Eko dan Shelvy N, selaku orang kepercayaan Juliari untuk digunakan membayar berbagai keperluan pribadi Juliari.

Untuk periode kedua pelaksanaan paket Bansos sembako, terkumpul uang fee dari bulan Oktober 2020 sampai dengan Desember 2020 sejumlah sekitar Rp8,8 miliar yang juga diduga akan dipergunakan untuk keperluan Juliari.

Baca Juga  Munarman Tak Ada Kabar dan Sulit Dijenguk, Fadli Zon: Diskriminasi Hukum

Baca Juga: Belum Punya Catatan Buruk, Masa Depan Anies Pada Pilpres 2024 Tetap Cerah

Sumber: beritasatu.com

  • Bagikan