Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat menjadi kader PDI Perjuangan/RMOL
Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat menjadi kader PDI Perjuangan/RMOL

Pertamina Rugi Besar, Komisi VII DPR Akan Cecar Ahok Dkk

IDTODAY NEWS – Komisi VII DPR mengagendakan pemanggilan Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan petinggi Pertamina lainnya terkait kerugian Pertamina Rp. 11,33 triliun.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi VII DPR, Ramson Siagian, di Gedung Nusantara I, Komplek Parlemen, Senayan, Kamis (27/8).

“Senin besok (31/8) kita panggil Pertamina, bahas kerugian ini,” ujar Ramson.

Baca Juga  Mental DPR Sulit Berdikari, Isoman Saja Difasilitasi Hotel Bintang Tiga!

Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini menyampaikan, ada tiga faktor penyebab meruginya perusahaan minyak milik negara itu.

“Izin menjelaskan, betul pak, posisi first half 2020 mencatatkan rugi. Rugi kurang lebih 707 juta dolar AS. Itu penyebab utamanya tadi disampaikan Pak Menteri betul sekali ada tiga kalau kita menyebutnya triple shock,” kata Emma dalam rapat kerja bersama Komisi VII, Gedung Nusantara I, Komplek Parlemen, Senayan, Rabu kemarin (26/8).

Baca Juga  Kritik Fasilitas Anggota DPR Isoman di Hotel, JoMan: Jangan Minta Dibayar Negara Terus

Emma menjelaskan faktor pertama meruginya Pertamina karena adanya penurunan permintaan pasar. Hal ini, jauh berbeda dari kondisi krisis sebelumnya yang dihadapkan dengan tekanan nilai tukar rupiah dan harga minyak mentah.

“Demandnya sekarang yang berdampak signifikan pada revenue kita. Kondisi ini bahkan lebih berat dari kondisi financial crisis,” katanya.

Nilai tukar rupiah menjadi faktor kedua, kata Emma. Pasalnya, laporan keuangan secara fundamental di Pertamina merujuk pada pembukuan dengan nilai mata uang dolar AS. Hal itu menyebabkan komposisi rugi kurang lebih 30-40persen dari kerugian Pertamina.

Baca Juga  Pernyataan Ahok Membuka Kegagalannya Sendiri, Merusak Sistem

“Yang ketiga ini terkait dengan crude. Dengan melemahnya crude price di second quarter menyentuh angka 19 dolar AS sampai 20 perbarel pak. Dibandingkanposisi Desember 2019 63 dolar AS perbarel kita sangat terdampak sekali pada margin hulu. Padahal margin hulu penyumbang atau kontributor ebitda terbesar 80 persen,” jelasnya.

“Dan ini jadi tiga faktor sangat signifikan terdampak,” tutup Emma Sri Martini menambahkan.

Baca Juga  Kelakuan Netizen Sindir Ngabalin: Beliau Sejenis Akar-akaran, Tepatnya Akar Masalah

Sumber: rmol.id

Tinggalkan Balasan