Prof. Didik Rachbini: Demokrasi Perlu, Tapi Tidak Cukup Atasi Kesenjangan

  • Bagikan
Prof. Didik Rachbini: Demokrasi Perlu, Tapi Tidak Cukup Atasi Kesenjangan
Pakar ekonomi dari LP3ES Prof. Didik J. Rachbini/RMOL

IDTODAY NEWS – Sebuah buku berjudul “Musuh Bangsa Bernama Kesenjangan Sosial” yang berisi kondisi demokrasi politik dan demokrasi ekonomi Indonesia segera diterbitkan. Buku ini ditulis oleh pakar ekonomi dari LP3ES Prof. Didik J. Rachbini.

Didik mengurai bahwa buku ini lahir karena demokrasi belum bisa mengentaskan kesenjangan sosial di tengah masyarakat.

Banyak negara menganut paham demokrasi, namun kesenjangan sosial terbilang yang tertinggi di dunia.

Baca Juga  Komjen Listyo Calon Tunggal Kapolri, Neta S Pane: Itu Sama Sekali Tidak Masalah

“Di India demokrasi terbesar di muka bumi, tapi kesenjangan sosialnya sangat tinggi. Demokrasi perlu tapi tidak cukup, tidak otomatis, tapi harus berjuang,” katanya dalam acara LP3ES dengan tema “Demokrasi, Pembangunan Ekonomi, dan Kesejahteraan Daerah” secara virtual, Minggu (16/8).

Selain itu, dalam bukunya Didik juga menyinggung perihal peran partai politik dalam mengatasi kesenjangan sosial. Menurutnya, hampir 100 persen partai politik tidak bisa mengatasi kesenjangan sosial masyarakat.

Baca Juga  Ketua PBNU Soroti UU Ciptaker, Jadi Petaka Bagi Pendidikan hingga Pekerja

“Peran partai politik, apakah partai politik bisa mengatasi kesenjangan? Jawaban saya tidak. Tapi, reformasi bisa,” katanya.

“Jadi, parpol itu tidak serta merta bisa, sebab saya kira diperlukan reformasi ya, parpol itu sangat berat, kondisinya sangat berat. Jawaban saya hampir dipastikan tidak bisa,”imbuhnya.

Partai politik menurutnya harus direformasi. Jika hal itu tidak mampu dilakukan, maka bangsa Indonesia akan mengalami masalah besar seperti yang terjadi di Filipina dan Amerika Latin.

Baca Juga  Respons Situasi Politik Terkini, JK: Jangan Sampai Kembali ke Demokrasi Jalanan

“Seperti zaman Marcos di Filipina, atau di Amerika Latin, setelah demokrasi muncul lagi tokoh-tokoh politik yang menyelamatkan rakyat, taglinenya menjadi diktator,” tutupnya.

Sumber: rmol.id

  • Bagikan