Heboh, Pejabat AS Pakai Jilbab Saat Konferensi Pers di Gedung Putih

  • Bagikan
Heboh, Pejabat AS Pakai Jilbab Saat Konferensi Pers di Gedung Putih
Wakil Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, Sameera Fazili, menghebohkan dunia maya saat tampil berjilbab ketika memberikan pengarahan di Gedung Putih. (Foto: Al Araby)

IDTODAY NEWS – Seorang pejabat Amerika Serikat (AS) membuat heboh dunia maya saat tampil dengan mengenakan jilbab ketika memberikan pengarahan di Gedung Putih . Para pengguna media sosial memuji momen langka tersebut sebagai bentuk simbolis setelah bertahun-tahun Islamofobia dinormalisasi oleh pemerintahan sebelumnya.

Adalah Sameera Fazili, Wakil Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, yang membuat para netizen terpesona dengan penampilannya. Itu terjadi saat ia berbicara kepada wartawan atas perintah eksekutif Presiden Joe Biden untuk mengatasi kekurangan chip elektronik dan masalah rantai pasokan penting lainnya pada Rabu lalu.

Baca Juga  Polisi New York Kini tak Bisa Paksa Muslimah Lepas Jilbab

Lulusan Universitas Harvard dan Sekolah Hukum Yale ini diangkat ke posisi kunci dalam pemerintahan baru bulan lalu. Dewan Ekonomi Nasional akan menangani proses pembuatan kebijakan ekonomi dan memberikan saran kebijakan kepada presiden.

Pengguna media sosial menyambut baik penampilan pertama Fazili sebagai pejabat di pemerintahan Biden, dengan beberapa menafsirkan gambar pejabat Muslim yang mengenakan jilbab sebagai simbol pergeseran dari warisan kefanatikan Donald Trump yang anti terhadap Muslim.

Baca Juga  PBB: 400 Ribu Anak Yaman Bisa Mati Kelaparan Tahun Ini

“Sebulan setelah Trump pergi dan kami memiliki seorang saudara perempuan berjilbab yang memberikan konferensi pers di Gedung Putih,” tulis Imraan Siddiqi, direktur eksekutif Dewan Muslim Hubungan Islam Amerika (CAIR) cabang Washington.

Baca Juga: Industri Miras Dibuka, Syarief Hasan: Pemerintah Kehilangan Arah Mengelola Negara

“Para Islamaphobia menangis,” tambahnya seperti dikutip dari Al Araby, Sabtu (27/2/2021).

Shahed Amanullah, seorang pengusaha teknologi Muslim yang menjabat sebagai penasihat senior di Departemen Luar Negeri AS antara tahun 2011 dan 2014, juga mengungkapkan sentimen serupa.

Baca Juga  Siswi Non Muslim Diminta Pihak Sekolah Pakai Jilbab, Abu Janda: Sejak Kapan Agamamu Harus Ikut Agamaku?

Dia menggambarkan penampilan Fazili, putri imigran Kashmir, menunjukkan bahwa AS hanya dalam sebulan telah mencapai dari ketidakmampuan dan pengucilan hingga kecerdasan dan inklusi.

Aymaan Ismail, seorang jurnalis Muslim AS yang berfokus pada identitas dan agama, membandingkan penampilan Fazili dengan aktivis anti-Islam Brigette Gabriel, yang diundang ke Gedung Putih oleh Trump.

“Trump mengundang para Islamofobia seperti Brigette Gabrial ke WH. Hari ini, saudari @sameerafazili menyampaikan konferensi pers. Betapa cepatnya hal-hal berubah,” tweetnya.

Baca Juga  Menhan Prabowo Berminat Gelar Latihan Militer dengan China, Ini Respons AS

Tak lama setelah menjabat pada tahun 2017, Trump memberlakukan “larangan perjalanan Muslim”, yang dibatalkan Biden dalam serangkaian perintah eksekutif bulan lalu.

Larangan itu adalah salah satu dari beberapa janji kampanye xenofobia yang dibuat oleh Trump, yang mencakup pembuatan pendaftaran Muslim dan pengawasan masjid.

Dia juga mengomentari dugaan ‘ancaman’ yang ditimbulkan oleh Muslim yang tinggal di Barat selama masa kepresidenannya, memicu kemarahan di antara supremasi kulit putih dan sayap kanan.

Baca Juga  Arab Saudi Tegas Mendukung Palestina Merdeka

Baca Juga: Jokowi Minta Ulama NU Bantu Sukseskan Program Vaksinasi Covid-19

Sumer: sindonews.com

  • Bagikan