IDTODAY NEWS – Dua tahun sejak Sayragul Sautbay dibebaskan dari kamp pendidikan ulang di Xinjiang, China, ibu dua anak itu masih sering mengalami mimpi buruk dan ingatan tentang “kekerasan dan penghinaan” yang dia rasakan ketika ditahan di kamp.

Sautbay, seorang dokter dan pengajar yang kini tinggal di Swedia, belum lama ini menerbitkan sebuah buku yang berisi pengalaman selama di kamp, termasuk menyaksikan penyiksaan, pelecehan seksual dan pemaksaan menggunakan KB.

Dalam wawancara baru-baru ini dengan Aljazeera dia membeberkan apa yang dialami etnis Uighur dan kaum minoritas muslim di Xinjiang, termasuk dipaksa makan daging babi, hal yang diharamkan bagi umat Islam.

“Setiap hari kami dipaksa makan daging babi,” kata Sautbay, seperti dilansir laman Aljazeera, Sabtu (4/12). “Mereka sengaja memilih hari suci bagi umat Islam dan jika kita menolaknya maka akan diganjar hukuman keras.”

Sautbay mengatakan aturan itu dirancang untuk membuat mereka merasa malu dan bersalah sebagai tahanan dan ketika dia memakan daging babi itu semua perasaan campur aduk itu sulit dijelaskan dengan kata-kata.

“Saya merasa menjadi orang lain. Sekeliling saya mendadak gelap. Saya sulit menerimanya,” kata dia.

Kisah pengakuan Sautbay dan rekan-rekannya memperlihatkan bagaimana China menerapkan kebijakan keras di Xinjiang dengan tujuan menyasar keyakinan agama kaun etnis minoritas muslim sekaligus memperluas pengawasan serta membuka jaringan kamp penahanan sejak 2017 dengan alasan untuk memerangi ekstremisme.

Namun dokumen yang diperoleh Aljazeera memperlihatkan pengembangan pertanian juga menjadi bagian dari apa yang disebut antropolog Jerman dan sarjana Uighur, Adrian Zenz, kebijakan sekularisasi.

Baca Juga  Menhan Prabowo Akan Berkunjung ke Pentagon, Senator AS Mengecam

Menurut Zenz, sejumlah dokumen dan artikel berita dari media pemerintah memperlihatkan ada upaya untuk menyokong dan memperluas peternakan babi di Xinjiang.

November tahun lalu kepala pemerintahan Xinjiang, Shorat Zakir, mengungkapkan wilayah Xinjiang akan dijadikan pusat peternakan babi.

Salah satu artikel berita yang dipublikasikan pada Mei lalu menyebut sebuah peternakan baru di kawasan selatan Kashgar menargetkan produksi 40.000 babi saban tahun.

Proyek ini akan membutuhkan lahan seluas 25.000 meter persegi di kawasan Kashgar Konaxahar yang bernama Shufu, menurut situs berbahasa China, Sina.

Kesepakatan ini ditandatangani pada 23 April tahun ini, hari pertama di bulan Ramadan, dan dikatakan peternakan babi ini bukan untuk kebutuhan ekspor tapi buat memastikan tercukupinya pasokan babi di Kashgar.

Baca Juga  Lembaga Think Tank Australia: China Hancurkan Ribuan Masjid di Xinjiang

“Ini adalah bagian dari upaya menghapus tradisi keagamaan rakyat di Xinjiang,” kata Zenz.

“Ini adalah bagian dari sekularisasi, mengubah Uighur menjadi sekuler dan mengindoktrinasi mereka untuk mengikuti partai komunis dan menjadi agnostik atau ateis,” kata dia.

Beijing selama ini berkukuh kebijakan di Xinjiang adalah pendekatan yang dilakukan untuk memerangi “tiga setan ekstremisme, separatisme, dan terorisme,” menyusul kerusuhan di Ibu Kota Urumqi, Xinjiang, pada 2009.

China membantah keberadaan kamp pendidikan ulang yang disebut PBB menahan lebih dari satu juta orang, dengan mengatakan mereka sedang menjalankan pusat pendidikan kejuruan untuk mengajarkan warga Uighur keterampilan baru.

Baca Juga: Benny Wenda Deklarasi Papua Barat, Kemenlu Layangkan Protes ke Dubes Inggris

Sumber: merdeka.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan