Musni Umar Bantah Keras Pengkritik Anies: Kelihatan Hebat tapi Dungu

Rektor UIC Musni Umar (Foto: Twitter/Suara.com)
Rektor UIC Musni Umar (Foto: Twitter/Suara.com)

IDTODAY NEWS – Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Musni Umar merespons kritik yang dilayangkan kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terkait prosesi penghormatan terakhir jenazah almarhum Sekretaris Daerah Saefullah.

Menurut Musni Umar, para pengkritik Anies seharusnya belajar tentang hukum sebelum melontarkan kritik mereka.

Bacaan Lainnya

“Pengkritik Anies, Sekda DKI dibawa ke DKI harus belajar hukum agar tidak ngawur. Kritikannya kelihatan hebat sehingga viral tapi ‘dungu’,” tulis Musni Umar meresponse sebuah artikel berita tentang kritik terhadap Anies Baswedan.

Musni menjelaskan bahwa dalam hukum ada yang namanya diskresi. Diskresi adalah keputusan yang diambil secara sepihak oleh seorang pejabat publik.

“Dalam hukum ada diskresi. Allah punya diskresi, Presiden punya diskresi, Gubernur, polisi punya diskresi lalu lintas,” sambung Musni Umar

.

Sebelumnya, prosesi penghormatan terakhir kepada jenazah Sekda DKI Saefullah menuai kritik.

Ketua Forum Komunikasi Warga Jakarta, Azas Tigor Nainggolan mengaku heran dengan tindakan Gubernur Anies Baswedan yang membuat acara penghormatan terakhir untuk Sekretaris Daerah (Sekda) Saefullah. Pasalnya, Saefullah diketahui wafat karena terjangkit Covid-19.

Baca Juga  Sudirman Said: Indonesia Over Politisasi, Mau Terus Menerus Begini?

Menurut Tigor, pasien positif corona seharusnya langsung dimakamkan begitu dinyatakan wafat. Pasalnya jenazah pasien Covid-19 disinyalir masih dapat menulari virus ke orang lain di sekitarnya.

“Seseorang yang positif Corona seharusnya langsung dibawa dan dimakamkan segera sesuai protokol kesehatan masa pandemi Covid 19,” ujar Tigor kepada wartawan, Kamis (17/9/2020).

Ia lantas mempertanyakan tujuan Anies mengadakan acara penghormatan terakhir yang dihadiri oleh para PNS dan pejabat itu. Seharusnya, kata Tigor, Anies lah yang menghampiri jenazah Saefullah ke Rumah Sakit sendiri.

“Jika memang ingin memberi penghormatan terakhir, kenapa tidak Anies Baswedan sebagai gubernur Jakarta yang datang menghampiri jenazah almarhum ke rumah sakit,” jelasnya.

Ia lantas menganggap Anies hanya menunjukan sisi kesombongan seorang atasan kepada bawahan. Tigor menyebut Anies tidak menunjukan kepedulian atas kesehatan pegawainya.

“Cara Anies Baswedan meminta membawa jenazah almarhum Saefullah mencerminkan sebagai kesombongan seorang atasan terhadap bawahannya,” katanya.

Bahkan, Tigor menilai bukan tidak mungkin acara itu menjadi momen kemunculan klaster corona baru. Apalagi tindakannya ini sudah menyalahi protokol yang ia buat sendiri.

“Perilaku kesombongan Anies sebagai atasan terhadap bawahannya ini sangat membahayakan menyebarkan Covid 19 dan melanggar hukum,” pungkasnya.

Baca Juga  Erick Laporkan Dugaan Korupsi Asabri Rp 17 T, Diduga Pelakunya 'Orang' Lama

Sumber: suara.com

Pos terkait