Said Didu: yang Mengangkat Ahok Adalah Orang Berani, Perjudian Besar

Said Didu
Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, M. Said Didu/RMOL

IDTODAY.CO – Nama Komisaris Utama (Komut) PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahja Purnama atau Ahok disorot. Setelah perusahaan pelat merah itu umumkan catatan kerugian pada semester pertama tahun ini sebesar 767,92 juta dolar AS atau sekitar Rp11,327 triliun (kurs Rp 14.750 per dolar AS).

Catatan ini dinilai yang buruk sepanjang sejarah Pertamina di Indonesia. Nama Ahok jadi perbincangan di media sosial.

Bacaan Lainnya

Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu menjelaskan, jika Ahok dianggap gagal memimpin Pertamina, maka Ahok bisa dikatakan sebagai mafia Pertamina sebab Ahok merupakan bagian dari pembuat regulasi di dalam tubuh Pertamina.

“UU APBN, bahwa dia membikin regulasi, bahwa itulah kerja mafia. Bagaimana mafia bekerja di Pertamina. Kan begini, aturan pengadaan Migas di Pertamina itu mungkin tiap tiga hari empat hari diganti. Nah kalau Ahok mau berantas mafia, tapi kalau dia gagal maka dia bagian dari mafia. Karena dia bisa membikin regulasi yang melindungi mafia.” ujar Said Didu ketika hadir Indonesia lawyers Club (ILC), di TV One pada Selasa (25/8) malam.

Baca Juga  Ahok Ungkap Alasannya Bergabung dengan PDI-P

Lebih jauh Said Didu menjelaskan, orang yang mengangkat Ahok masuk ke Pertamina termasuk yang berani. Dia mengistilahkannya sebagai “perjudian besar”. Jika Ahok gagal, maka orang yang mengangkatnya juga ikut gagal.

“Yang mengangkat Ahok ini adalah orang yang berani, “perjudian besar”. Kalau dia sukses maka sukses, kalau dia gagal, maka yang mengangkat Ahok juga gagal.” Ucap Said Didu.

Said Didu menjelaskan, dalam pemilihan pimpinan komisaris BUMN ada 13 variabel yang dinilai. Dari 13 itu ada 3 yang terpenting, yakni kompetensi, kepemimpinan dan Integritas.

“Tentang kompetensi kita sama sama tidak tahu, apa kompetensinya Ahok di bidang korporasi. Kita Sama sama tidak tahu.”

“Sementara kepemimpinan Ahok, kita sama-sama telah mengetahui. Sedangkan Integritas, ini juga tidak tahu karena kontroversi. Jadi biarkan saja 3 variabel itu berjalan dengan baik dan kita awasi.”jelas Said Didu.

Sumber: fajar.co.id

Pos terkait