IDTODAY NEWS – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD berpendapat, kebijakan-kebijakan yang bersifat koruptif diputuskan secara oligarkis, bukan demokratis.

Mahfud MD berpendapat demikian, bertolak dari studi yang pernah dilakukannya terkait jalannya pemerintahan di awal tahun 1945 sampai akhir 1950.

Kesimpulan studi tersebut, pemerintahan dan politik di Indonesia ketika itu berjalan demokratis.

Dan, masyarakat memiliki kontrol yang kuat, sehingga hukum berjalan responsif dan jumlah kasus korupsi sangat kecil.

Selain jumlah kasus korupsi yang terbilang kecil ketika itu, kata Mahfud MD, proses penindakannya pun dilakukan secara terbuka.

Mahfud MD kemudian membandingkan dengan situasi setelah reformasi.

Baca Juga  Menko Mahfud: Jangan Kaget, Resesi Beda dengan Krisis

Ia berpendapat reformasi dilakukan untuk membangun demokrasi dan penegakan hukum menjadi lebih baik.

Namun menurutnya, demokrasi hanya terjadi di sekitar periode pertama reformasi.

“Tetapi saudara tahu, demokrasi kita itu hanya terjadi sekitar satu periode kepemimpinan awal reformasi, setelah itu bergeser menjadi oligarki.”

“Jadi jangan berpikir, praktik kenegaraan kita itu sekarang banyak yang oligarkis, itu sebabnya lalu muncul kebijakan-kebijakan yang koruptif.”

“Karena diputuskan secara oligarkis, bukan demokratis,” kata Mahfud MD ketika menyampaikan keynote speech dalam Webinar Kemerdekaan bertajuk ‘Refleksi 75 Tahun Peradaban Indonesia’, Selasa (11/8/2020).

Baca Juga  Mahfud MD Usul Markaz Syariah FPI Jadi Ponpes Bersama NU Dan Muhammadiyah

Sebelumnya, ia juga membandingkan kaitan antara demokrasi dan korupsi saat ini dengan masa pemerintahan Orde Baru.

Menurutnya, saat ini korupsi tidak berkurang jika dibandingkan dengan masa pemerintahan Orde Baru.

Justru menurutnya korupsi semakin banyak di era saat ini, karena tindakan-tindakan korupsi dibangun melalui demokrasi.

“Kalau dulu di zaman Orde Baru, korupsi dibangun melalui otoriterisme, kekuasaan terpusat, lalu kekuasaan itulah yang mengatur korupsinya sendiri.”

“Nah, sekarang semua orang, karena demokrasi, karena kebebasan, itu sudah melakukan korupsinya sendiri-sendiri melalui berbagai cara,” beber Mahfud MD.

Meski begitu, ia tetap yakin situasi peradaban tersebut dapat diubah dengan hadirnya pemimpin-pemimpin yang kuat.

Baca Juga  ProDEM: Banyak BUMN Bangkrut Kok Malah Nyuruh Gaji Staf Ahli Direksi Tinggi-tinggi

Selain itu, kata Mahfud MD, perilaku masyarakat juga dapat diubah dengan politik hukum dan politik kebudayaan menurut studi yang pernah ia lakukan.

“Di dalam studi yang saya lakukan juga, bahwa hukum bisa mengubah perilaku kita.”

“Dalam dalil itu ada dalil, hukum itu alat mengubah perilaku masyarakat.”

“Caranya apa? Kalau saya di bidang hukum ada politik hukum namanya.”

“Kita juga sudah punya politik kebudayaan, asal itu ditegakkan dengan baik, maka akan mengarahkan pada perubahan yang lebih baik,” ulas Mahfud MD.

Sumber: tribunnews.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan