Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta Merosot Hingga Minus 8,4 persen

  • Bagikan
Sri Mulyani
Menkeu Sri Mulyani/RMOL

IDTODAY NEWS – Pertumbuhan ekonomi daerah di Indonesia mengalami kontraksi yang cukup tajam. Hal ini dikarenakan, daerah-daerah tersebut memiliki kasus virus corona baru (Covid-19) sangat tinggi sehingga laju perekonomian melambat.

Begitu yang dikatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam sesi video conference dengan awak media, Senin (10/8).

“Provinsi dengan kasus Covid-19 tertinggi cenderung menunjukan pertumbuhan ekonominya juga merosot secara sangat tajam. Kalau kita lihat dari mulai Bali dalam hal ini mengalami pertumbuhan kuartal 2 (Q2) kontraksi hingga 11 persen dimana total kasus 3.682,” ujar Sri Mulyani.

Baca Juga  Mobilitas Dan Kapasitas Faskes Jadi Tantangan Dalam Perpanjangan PSBB Jakarta

Mantan direktur Bank Dunia ini menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Pulau Bali merosot tajam lantaran tidak adanya turis yang datang.

Aktivitas masyarakat setempat juga dibatasi dengan adanya pandemik Covid-19. Tidak hanya di Bali sejumlah provinsi juga mengalami hal yang sama.

“Kemudian kita lihat disini Sumatera Selatan, Sulut, Nusa Tenggara Barat dan semua yang ada di provinsi masuk di atas 1.000 kasus Covid,” katanya.

Baca Juga  Beberkan Kesalahan Terbesar Jokowi dan Luhut, Cendekiawan NU: Parah Sekali

Sementara itu, DKI Jakarta yang memiliki kasus Covid-19 terbesar di Indonesia. Pertumbuhan ekonominya terjun bebas di angka -8,4 persen.

“Kita lihat dalam gambar Jakarta episentrum mengalami GDP Q2 2020 kontraksi minus 8,4 persen. Dan karena kontribusi Jakarta sekitar 18 persen maka pengaruhnya terhadap perekonomian nasional jadi sangat signifikan. Dia 20 persen contributor Covid-19 secara nasional,” katanya.

Selain itu, di Provinsi Jawa Barat juga mengalami hantaman cukup keras dari Covid-19. Hingga memukul pertumbuhan ekonomi di atas lima persen.

Baca Juga  Pemerintah Suntik Jiwasraya Rp 22 T, Setelah 'Dirampok'

“Kemudian, kita lihat provinsi jawa lain Jawa Barat kontraksi minus 6. Dalam hal ini share terhadap GDP 13,4 persen. jawa tengah kontraksi minus 6 juga sama share gdp 8,6. Jawa timur episentrum yang sangat penting. GDP kontraksi minus 5,9 persen,” bebernya.

Sumber: rmol.id

  • Bagikan