Novel Bamukmin
Juru Bicara Persaudaraan Alumni 212 Novel Bamukmin.(Foto: Liputan6.com)

Sebut Ahok Produk Gagal yang Dipaksakan, PA 212: Dia dapat Jabatan Karena Tahu Rahasia Jokowi

IDTODAY NEWS – Wasekjen DPP PA 212, Novel Bamukmin turut mengomentari kerugian Manajemen PT Pertamina (Persero) yang mencapai hingga teriliunan rupiah.

Menurut Novel, sejak perusahaan di bawah BUMN itu dipimpin mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pertamina sudah mulai amburadul.

“Saya katakan sebelum Ahok menjabat dipertamina bahwa Ahok itu produk gagal yang dipaksakan terus menjadi orang yan punya posisi penting,” kata Novel saat dihubungi Pojoksatu, Jumat (28/8/2020).

Baca Juga  Hasil Monitoring Satgas, Sebagian Besar TPS Terapkan Protokol Kesehatan

Meski Ahok produk gagal, kata Novel, ia tetap akan mendapat posisi strategis di pemerintahan.

Sebab, selain Ahok merupakan rekan Jokowi di masa menjabat sebagai gubernur DKI, Ahok juga diduga mengetahui seluk beluk rahasia kepempinan Jokowi dari gubernur hingga presiden.

“Ahok mendapat posisi itu diduga kaena memang sebagai ajang balas budi saja atau memang Ahok diduga juga yang pegang rahasianya jokowi sehingga dalam kondisi apapun Ahok harus punya posisi dipemerintahan Jokowi ini,” tandas Novel.

Baca Juga  Menteri KKP Terjerat Korupsi, KAMI: Jokowi Gagal Rekrut Orang Kredibel

Sebelumnya, Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini membenarkan soal kerugian tersebut. Dia mengatakan, ada tiga faktor yang menyebabkan kerugian Pertamina menyentuh angka Rp 11 triliun.

“Izin menjelaskan, betul pak, posisi first half 2020 mencatatkan rugi, rugi kurang lebih US$ 707 juta. Itu penyebab utamanya tadi disampaikan Pak Menteri betul sekali ada 3, kalau kita menyebutnya triple shock,” katanya dalam rapat di Komisi VII DPR Jakarta, Rabu (26/8/2020).

Baca Juga  PMII Surabaya Ancam Bubarkan Deklarasi KAMI, Syahganda Nainggolan: Mahasiswa itu Pakai Otak Bukan Otot

Dia menyebut, ada beberapa faktor yang menyebabkan pertamina rugi. Pertama, karena menurunnya permintaan. Dia menyebut, kondisi kali ini berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya di mana biasanya Pertamina dihadapkan pada tekanan harga minyak mentah dan nilai tukar.

Faktor kedua karena nilai tukar atau kurs. Emma mengatakan, secara fundamental keuangan Pertamina dibukukan dalam dolar Amerika Serikat (US$).

Faktor ketiga ialah melemahnya harga minyak dunia. Hal ini berpengaruh pada sektor hulu yang berkontribusi besar pada penerimaan Pertamina.

Baca Juga  Mahasiswa di Kota Makassar Blokade Jalan, Tuntut Presiden Jokowi Bubarkan PPKM dan Pulangkan TKA China

“Sekarang demand (permintaan-red) yang berdampak signifikan pada revenue (pendapatan-red) kita, itu pertama, kondisi kali ini bahkan lebih berat dari kondisi financial krisis,” terangnya.

Sumber: fajar.co.id

Tinggalkan Balasan