Kapal Induk AS Gelar Latihan di Laut China Selatan
Kelompok tempur yang dipimpin oleh kapal induk USS Ronald Reagan melakukan operasi penerbangan dan operasi serta latihan stabilitas maritim kelas atas di Laut China Selatan. (Foto/Sindonews)

Kapal Induk AS Gelar Latihan di Laut China Selatan

IDTODAY NEWS – Sebuah kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) melakukan latihan di Laut China Selatan yang diperebutkan pada hari Jumat kemarin. Demikian pernyataan yang dikeluarkan oleh Angkatan Laut AS.

Menurut pernyataan itu, sebuah kelompok tempur yang dipimpin oleh kapal induk USS Ronald Reagan melakukan operasi penerbangan dan operasi serta latihan stabilitas maritim kelas atas.

“Integrasi dengan mitra bersama kami sangat penting untuk memastikan daya tanggap dan kematian pasukan gabungan, dan mempertahankan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka,” kata Komandan Angkatan Laut AS Joshua Fagan, perwira operasi udara Satgas 70 di atas kapal USS Ronald Reagan, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (15/8/2020).

Baca Juga  Saat Peringatan HUT RI, 4 ABK WNI Kembali Ditemukan Tewas di Kapal Ikan Tiongkok

Latihan itu dilakukan di tengah ketegangan yang meningkat antara AS dan China. Washington telah mengkritik Beijing terkait respon terhadap pandemi virus Corona baru dan menuduhnya memanfaatkan pandemi untuk mendorong klaim teritorial di Laut China Selatan dan di tempat lain.(Baca: Media China Sentil Indonesia karena Menentang Klaim China di Laut China Selatan)

AS telah lama menentang klaim teritorial China yang luas di Laut China Selatan dan telah mengirim kapal perang secara teratur melalui jalur perairan strategis tersebut.

Baca Juga  Terlibat Skandal Pembayaran Kesejahteraan Anak, PM Belanda dan Seluruh Kabinetnya Mundur

China keberatan dengan latihan semacam itu dan mengatakan penolakan AS atas klaimnya di Laut China Selatan telah meningkatkan ketegangan dan merusak stabilitas di kawasan.(Baca: China Balas Pompeo: Laut China Selatan Bukan Hawaii-nya AS)

China mengklaim 90% dari Laut China Selatan yang kaya sumber daya, yang dilalui sekitar $ 3 triliun perdagangan setahun. Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam juga memiliki klaim yang sama.

Baca Juga  Populasi Muslim Meningkat, Masjid di Jepang Terus Menjamur

Sumber: sindonews.com

Tinggalkan Balasan