Menkes: Lebih Baik Kasus Covid-19 Tinggi karena Testing Juga Tinggi

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melihat ponselnya saat akan mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Komplek Parlemen, Jakarta, Kamis (8/4/2021). Rapat tersebut membahas mengenai strategi vaksinasi COVID-19 dalam mencapai herd immunity di Indonesia dan penjelasan terkait kesiapan penyediaan vaksin COVID-19 untuk vaksinasi gotong royong beserta regulasinya. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.(ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

IDTODAY NEWS – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya peningkatan testing atau pengetesan dan tracing atau penelusuran Covid-19.

Sebab, semakin cepat kasus virus corona ditemukan, semakin cepat pula pencegahan penularan dilakukan.

“Kenapa lebih baik dites daripada tidak dites? Kenapa lebih baik angka kasus konfirmasinya tinggi daripada rendah tapi kita tidak tahu bahwa sebenarnya ada?,” kata Budi dalam konferensi pers Nota Keuangan dan RUU APBN 2022, Senin (16/8/2021).

“Karena itu orang yang terdeteksi positif kalau kita tahu kita bisa isolasi sehingga kita bisa mengurangi laju penularan. Semuanya tujuannya untuk mengurangi laju penularan,” tuturnya.

Budi menyebutkan, penelusuran harus dilakukan setidaknya terhadap 15 kontak erat pada setiap satu kasus konfirmasi Covid-19.

Apabila dari penelusuran itu ditemukan kasus konfirmasi baru, maka pasien harus segera diisolasi. Selanjutnya, proses penelusuran dilanjutkan agar dapat diketahui sebaran penularan.

“Karena musuhnya dari pandemi ini yang kita tahu fatalitasnya rendah dibandingkan TBC atau HIV adalah mengurangi laju penularan, karena musuhnya pandemi ini penularannya cepat sekali,” ucap Budi.

Selain upaya deteksi, pemerintah juga menempuh sejumlah strategi lainnya seperti menerapkan perubahan perilaku dengan protokol kesehatan 3M yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Upaya lain yakni melalui vaksinasi. Budi mengklaim pemerintah sudah berhasil memperoleh akses dan kontrak untuk memenuhi kebutuhan vaksin bagi 208 juta rakyat Indonesia yang datang secara bertahap.

Terhitung Januari sampai Juli 2021 setidaknya ada 90 juta dosis vaksin yang tiba. Kemudian bulan Agustus mencapai 70 juta dosis dan September rencananya 80 juta dosis akan tiba.

Oleh karenanya, kata Budi, waktu-waktu ke depan akan jauh lebih berat dibandingkan dengan periode vaksinasi pada tujuh bulan pertama kemarin.

“Jadi Bapak Ibu jangan mengendorkan ini, tetap dibutuhkan walaupun juga sudah menurun kasusnya. Bahkan mungkin menjadi kehidupan kita sehari-hari kedepannya menjadi bagian dari new normalnya kita ke depannya,” tuturnya.

Baca Juga  MUI Belum Terima Permohonan Uji Halal Vaksin Covid-19

Strategi terakhir dalam penanganan pandemi yang juga Budi sebut sebagai strategi defensif yakni mempersiapkan rumah sakit.

Budi mengatakan, jika langkah yang ditempuh sudah sampai pada layanan rumah sakit maka strategi perubahan perilaku, strategi deteksi, dan strategi vaksinasi yang dilakukan kurang keras dan belum disiplin.

Oleh karenanya, ia ingin penyiapan fasilitas rumah sakit jadi upaya yang terakhir.

“Jauh lebih bagus kalau kita tetap konsentrasi ketiga strategi di hulu dibandingkan dengan strategi yang terakhir ini di hilir,” kata dia.

Sumber: kompas.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan