Tito Harap Pilkada Serentak Jadi Momen Kendalikan Penyebaran Covid-19

Mendagri Minta Warga Tahan Diri Tak Berkerumun di Libur Panjang Oktober 2020
Mendagri Tito Karnavian Pimpin Rakor Pencapaian Target Realisasi APBD 2020 dan Sosialisasi Penggunaa. ©2020 Merdeka.com

IDTODAY NEWS – Pada rapat koordinator (rakor)kesiapan Pilkada Serentak Tahun 2020 dan Pengarahan Kepada Satuan Gugus Tugas di Provinsi Jambi, Menteri Dalam Negeri Indonesia Tito Karnavian mengingatkan pelaksanaan demokrasi itu tidak boleh terlepas dari protokol kesehatan. Dalam rakor tersebut, Tito juga mengingatkan peran Pilkada sebagai momentum untuk dapat menekan laju penyebaran Covid-19.

“Kita jadikan pilkada ini momentum juga untuk bisa mengendalikan (dan) menekan penyebaran Covid-19. Kenapa? (karena) Penyebaran Covid-19 kalau hanya oleh pemerintah pusat saja tidak akan bisa maksimal. 50 Persen gasnya. 270 Daerah ini (yang ikut Pilkada serentak) bisa men-trigger daerah-daerah lain, 278 daerah yang tidak ada pilkada,” kata Tito, Rabu (26/8).

Bacaan Lainnya

“Tetapi sebagian besar daerah-daerah yang ada pilgubnya, itu juga ada geliat pilkada. Nah ini kita harapkan ada setting tersendiri untuk penanganan ini. Yang pertama tentunya harus ada proteksi. Proteksi untuk penyelenggara, pengawas, pengaman, dan pemilih, empat-empatnya harus diberikan proteksi,” imbuhnya.

Baca Juga  Pemindahan 34 ICU Ke RSUI Wujud Pemerintah Belum Mapan Menangani Covid-19

Pada kesempatan ini, Tito juga menyampaikan permintaan dari KPU dan Bawaslu pusat terkait pengurangan jumlah pemilih di tiap TPS dari yang awalnya 800 pemilih menjadi hanya 500 pemilih. Hal tersebut tentu akan menambah jumlah TPS yang juga akan mengakibatkan penambahan petugas, pengawas, peralatan pilkada, dan peralatan pengaman seperti masker.

Tito turut menyampaikan pemberian anggaran yang berhubungan dengan penambahan TPS serta alat-alat proteksi untuk penyelenggara KPU, Bawaslu, aparat keamanan, dan pemilih. Selain itu, tertundanya pelaksanaan Pilkada serentak dikarenakan situasi pandemi menimbulkan persoalan lain, yaitu adanya potensial pemilih tambahan.

Tak Ada Konvoi

Pemilih tambahan ini adalah mereka yang sebelumnya tidak terdaftar karena usianya belum mencapai usia pilih per September 2020. Namun, dengan adanya penundaan pelaksanaan Pilkada Serentak, mereka yang mencapai usia pilih pada 9 Desember 2020 sudah dapat melakukan pemilihan.

Meski identitas calon pemilih tambahan harus dipastikan dengan cara door to door yang rawan penularan Covid-19, Tito mengatakan bahwa tahapan tersebut sudah berhasil dilalui. Kerawanan lain yang akan dihadapi adalah pada saat pendaftaran pasangan calon pada tanggal 4 hingga 6 September.

Oleh karena itu, Tito menyampaikan kepada KPU agar tidak ada arak-arakan, konvoi, serta keramaian saat pendaftaran. Pendaftaran tersebut harus dibatasi dengan tetap menerapkan social distancing dan memakai masker. Sebagai gantinya, Tito mengatakan KPU dapat menghadirkan media massa dan membuat live streaming sehingga dapat diakses di media sosial, dengan begitu masyarakat dapat tetap mengikuti proses pendaftaran.

Baca Juga  Mahfud MD: Jakarta Tak Menggelar Pilkada Tapi Selalu Juara 1 Penularan Covid-19

Tak hanya itu, ada juga situasi rawan lain yakni saat berlangsungnya masa kampanye. Tito mengkhawatirkan akan adanya konflik-konflik yang melibatkan fisik, oleh karena itu Tito meminta agar pelanggaran yang berbau kekerasan untuk ditindak tegas.

Selain adanya kemungkinan konflik fisik, kerawanan lain pada masa kampanye ini adalah terkait adanya arak-arakan dan konvoi. Rapat umum juga diadakan dengan jumlah peserta yang terbatas. Oleh karena itu, Tito menyarankan para calon untuk melakukan kampanye secara virtual.

Selain itu, kampanye juga dapat dilakukan dengan menggunakan alat seperti masker dan hand sanitizer yang diberi gambar atau simbol dari pasangan calon. Pembagian alat-alat tersebut dimaksudkan Tito sebagai bentuk upaya penekanan persebaran Covid-19 yang bisa dibagikan pasangan calon secara door to door. Tito juga memberikan saran terkait materi debat nantinya.

“Materi debatnya spesifik. Perbanyak betul materi debatnya tentang bagaimana strategi penanganan pandemi Covid-19 di tempat itu. Sehingga semua kontestan adu gagasan dan adu berbuat untuk bisa menangani Covid-19. Karena Covid-19 ini krisis luar biasa. Ini pandemi terluas dalam sejarah umat manusia,” katanya.

Rakor yang diadakan pada Rabu (8/26) ini juga dihadiri oleh Gubernur Jambi, Fachrori Umar. Rakor ini dihadiri Tito setelah menghadiri rakor bertema serupa di Padang, Sumatera Barat. Cuplikan rakor ini disiarkan secara langsung di akun Youtube Kemendagri.

Baca Juga  Luhut Berencana Permudah Praktik Dokter Asing, Perluni: Aneh, Dokter WNI Malah Dipersulit

Sumber: Merdeka.com

Pos terkait